Produk Pangan Impor Kuasai 90 Persen Perdagangan Daring

 

Pesatnya perkembangan perdagangan online di Tanah Air ternyata belum dibarengi dengan peningkatan transaksi produk lokal, contohnya pangan. Pemerintah mengungkapkan produk pangan lokal Indonesia masih kalah dari produk pangan asing dalam perdagangan dalam jaringan (daring).

Bahkan, dari total transaksi e-commerce makanan, 90 persen masih didominasi produk pangan impor, dan hanya sekitar 10 persen saja yang merupakan produk buatan dalam negeri.

Oleh karena itu, pemerintah diminta mendorong pembangunan produk pangan lokal, sehingga dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia tidak hanya dijadikan target pasar, tetapi bisa berperan lebih besar dari sisi produksinya.

Menanggapi hal itu, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan pemerintah seharusnya lebih memajukan komoditas pangan lokal. Konsep yang bisa dilakukan, antara lain saling memasok antara satu daerah dengan daerah lain.

“Dari sisi kesehatan lingkungan, kalau prinsip saya, lebih baik produk pangan tidak organik, tapi dari daerah sendiri, daripada organik tapi impor,” kata Dodik, di Jakarta, Senin (29/1).

Menurut Dodik, ditinjau dari kesehatan lingkungan, jejak karbon produk pangan impor berpeluang menjadi tidak bagus. Misalnya, impor diangkut dengan menggunakan pesawat atau kapal. Maka akan muncul pertanyaan apakah produk itu ramah lingkungan.

“Kalau menurut saya, walaupun produk organik tapi impor, itu berpotensi tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan produk biasa dari lokal. Lebih bagus lagi kalau organik dan lokal,” tukas dia.
Dodik juga menyatakan, saat ini IPB mengembangkan produk tanaman lokal yang diperuntukkan bagi penjualan e-commerce. Nantinya, produk itu akan dikirimkan ke wilayah terdekat.
“Supaya murah, itu jelas. Yang kedua, jejak karbonnya lebih kecil, maksudnya supaya lebih ramah lingkungan. Karena kalau terlalu jauh pengirimannya malah tidak ramah lingkungan,” papar dia.

Dodik menegaskan perdagangan daring perlu didukung karena memotong banyak rantai distribusi. Komoditas yang biasanya melalui jalur tengkulak, hingga pengecer bisa di-bypass.

Dia menambahkan pemerintah semestinya bisa berbuat lebih dengan meningkatkan infrastruktur di perdesaan. Sebab, mayoritas sawah berada di kawasan desa. “Irigasi, itu jauh lebih penting. Kalau pupuk itu pemborosan karena ada subsidi, malah petani tidak bijaksana dalam menggunakan pupuk kimia,” jelas dia.

Berbanding Terbalik

Sebelumnya, Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Fadjar Hutomo, mengatakan dari total transaksi e-commerce makanan, hanya sekitar 10 persen saja yang merupakan produk buatan dalam negeri.

Fadjar menuturkan kontribusi produk pangan lokal tersebut justru berbanding terbalik dengan meningkatnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB terus meningkat dari sekitar 700 triliun hingga 750 triliun rupiah pada 2014 menjadi sekitar 1.000 triliun rupiah.

“Info terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) per 2017 yang belum dipublikasi, angkanya sudah mendekati 1.000 triliun rupiah. Sekira 40 persen lebih dari nilai tersebut dikontribusi subsektor kuliner,” jelas Fadjar.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Digital Kreatif Indonesia (ADITIF), Saga Ikranegara, mengemukakan ada banyak isu terkait dunia digital saat ini. Isu produk yang dijual di e-commerce, Indonesia sangat kedodoran, bahkan negara-negara maju pun kalah dengan penguasa utama manufaktur dunia saat ini, yakni Tiongkok.

Bedanya, negara maju menguasai elemen utamanya, yakni teknologi, visi, dan branding-nya. Sementara itu, Indonesia ketinggalan di semua lini.

“Maka di isu kuliner sesungguhnya kita bisa menang. Industri makanan Tanah Air mesti bergerak cepat merebut pasar digital. Sebab, di indutri lain, seperti fashion, aksesori, ponsel, dan elektronika kita kalah semua,” jelas dia.

Menurut Saga, produk konsumen yang diperdagangkan di digital isunya akan selalu mengikuti bagaimana pemerintah dan swasta serius membangun industri manufaktur dalam negeri dan meninggalkan cara mudah berbisnis yakni impor.

Sumber : Koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: