Sumut Sulit Dongkrak Daya Beli Petani

Daya beli petani di Sumatera Utara (Sumut) masih berada di bawah 100. Angka tersebut menunjukkan daya beli petani, terutama di subsektor tanaman pangan dan hortikultura, rendah.

Padahal, daya beli rendah berarti biaya produksi lebih mahal dibandingkan harga jual produk, membuat petani semakin sulit meningkatkan taraf hidupnya.

“Upaya Pemprovsu memang belum terlihat dalam mendongkrak daya beli petani. Padahal banyak program yang bisa dibuat terlebih mengingat sektor pertanian masih diandalkan dalam menyokong pertumbuhan ekonomi Sumut. Jadi kalau bisa didorong daya belinya, akan berkontribusi besar bagi ekonomi kita,” kata pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, di Medan, Selasa (30/1).

Gunawan mengatakan, daya beli petani memang bisa didongkrak salah satunya dengan menggiring petani mengembangkan usaha hilir dari produk yang dihasilkan. Selain itu, pemerintah juga bisa membuat agenda untuk menggelar kegiatan-kegiatan yang bisa mempromosikan hasil tani dari masing-masing daerah.

Juga perlu semacam jaminan jika produk yang dihasilkan akan tertampung. Karena jika kalender tanam diterapkan dengan tepat dan komitmen, maka tidak akan ada stok melimpah di pasar seperti yang terjadi selama ini. Hal itu terjadi karena banyak petani yang ikut-ikutan menanam komoditi yang sedang naik daun atau mahal. Akibatnya, produksinya membanjir.

Pemerintah juga harus terus meningkatkan pengetahuan petani terutama soal perkembangan teknologi. Karena selain bisa menghasilkan produksi yang lebih baik, juga kemungkinan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.

“Tentu ini penting. Karena jika daya beli petani masih di bawah 100, itu pendapatannya artinya masih sangat rendah. Harus bisa di atas 100. Tapi itu pun harus benar-benar ril dan bukan sekadar angka,” kata Gunawan.

Petani yang sebagian besar hanya mengandalkan satu tanaman, memang sangat terpukul saat harga jatuh. Apalagi seperti karet. Harganya ditentukan pasar internasional. Makanya sangat berharap pemerintah bisa memberikan solusi,” kata petani karet di Langkat Suparno.

Hal senada juga diungkapkan petani cabai di Tiga Panah, Kabupaten Karo, Usaha Barus. Menurutnya, pemerintah harus bisa lebih proaktif  terutama saat harga turun.

“Petani saat ini memang sudah rata-rata mandiri. Tapi kan masalah harga tak bisa ditentukan oleh petani. Makanya pemerintah perlu bertindak disaat seperti itu. Jadi petani tidak akan mendapatkan harga di bawah modal,” katanya.

Sumber : medanbisnisdaily.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: