Wajib Daftar Pengguna Gula Refinasi

Bappebti tidak mengharuskan semua pengguna gula rafinasi mengikuti sistem lelang di Pasar Komoditas Jakarta

JAKARTA. Lelang gula kristal memasuki babak baru. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 42 Tahun 2018 tentang Penegasan Pelaksanaan Perdagangan Gula Refinasi (GKR) bagi Penjualan dan Pembeli tertanggal 31 Januari 2018.

Lewat SE ini, pembeli dan penjual yang ikut sebagai peserta lelang harus mendaftar sebagai peserta di PT Pasar Komoditas Jakarta (PKJ). Registrasi itu menjadi syarat untuk melakukan pembelian melalui pasar lelang GKR ini berarti semua pengguna GKR harus terdaftar di Pasar Lelang, karena 11 perusahaan gula refinasi telah terdaftar.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti Bachrul Chairi mengatakan saat ini sudah terdaftar 395 perusahaan makanan dan minuman skala besar yang sudah mendaftar ikut lelang GKR di PT PKJ.

Ia bilang, tujuan pendaftaran ini adalah memastikan adanya transparansi produksi dan kebutuhan  GKR untuk masing-masing industri. “SE ini tidak mengharuskan mereka ikut lelang, tapi kontrak mereka harus didaftarkan demi transparansi,” ujar Bachrul kepada KONTAN, Selasa (6/2).

Bappebti akan memberikan waktu sekitar sepekan kepada industri makanan dan minuman yang belum mendaftarkan diri untuk segera mendaftar setelah SE terbit. Bila tidak, mereka tidak akan bisa membeli GKR.

Namun sampai saat ini, Bachrul mengaku sebagian industri masih menolak untuk mendaftar. Ia menduga, mereka yang tidak mau mendaftar tidak mau diketahui indentitasnya. Baik itu alamat perusahaan, volume kebutuhan dan kapasitas produksi.

Kemdag akan mengaudit perusahaan yang tidak mendaftar di Pasar Lelang.

Nilai fantastis

Menurut Bachrul, bila tidak ada keharusan registrasi, ada banyak potensi pelanggaran yang dilakukan. Bachrul mengambil contoh, bisa saja perusahaan tersebut menghindari pajak, atau juga melakukan pembocoran GKR ke pasar sehingga merugikan petani karena harga gula petani anjlok akibat masuknya GKR di pasar konsumsi.

Menurut Bachrul, Kementerian Perdagangan (Kemdag) akan memeriksa dan mengaudit perusahaan-perusahaan makanan dan minuman yang tidak mau mendaftar satu per satu. Melalui audit ini, Kemdag ingin memastikan apakah perusahaan-perusahaan tersebut melakukan pembocoran GKR ke pasar.

Bachrul menduga, kelompok perusahaan makanan dan minuman yang tidak mau mendaftar adalah perusahaan yang tidak mau adanya transparansi. Ia bilang, hal ini bisa dimaklumi.

Pasalnya dengan adanya Lelang GKR, potensi keuntungan yang didapatkan dari merembeskan GKR ke pasar lokal bakal hilang. Menurut hitungan Bappebti, bila rata-rata ada 500.000 ton saja GKR yang bocor ke pasar, potensi omzetnya mencapai Rp 5 triliun. Itu dengan asumsi harga Rp 10.000 per kilogram (kg).

Namun bila yang beredar mencapai 1 juta ton, maka nilai perputaran bisa mencapai Rp 10 triliun. Pendapatan yang cukup fantastis ini juga sudah pasti tidak tercatat di kantor pajak.

Tapi, Koordinator Forum Lintas Asosiasi Industri Pengguna Gula Rafinasi (FLAIPGR) Dwiatmoko Setiono menepis tudingan tersebut. Ia bilang protes atas penerbitan SE Bappebti tersebut.

“Setelah kami baca, isi surat edaran tersebut bertentangan dengan surat edaran Menteri Perdagangan Nomor 2 tahun 2018 dan beberapa Undang-Undang yang berlaku di Indonesia,” ujar Dwiatmoko.

Ada dua ketentuan yang menjadi perhatian Dwiatmoko. Masing-masing poin b dan poin c yang termuat dalam surat edaran tersebut.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: