Optimisme Ekonomi Indonesia

Petugas menunjukkan prangko edisi khusus Asian Games 2018 di Kantor Pos Besar, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/2).

Periode landai ekonomi Indonesia tampaknya akan berakhir pada 2018 ini. Setelah dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ekonomi bergerak lambat di kisaran 4,9-5,1 persen, maka pada 2018 optimisme merebak ekonomi mampu melompat lebih tinggi.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2018 berada di angka 5,4 persen atau jauh di atas realisasi 2017 yang hanya 5,07 persen. Pada 2016, pertumbuhan ekonomi malah hanya 5,03 persen di tengah derasnya hujan utang luar negeri ke Tanah Air. Secara tren, terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan optimismenya pertumbuhan ekonomi pada 2018 ini mampu menyentuh angka 5,4 persen. Hal ini didasarkan asumsi dua komponen penting pendorong pertumbuhan secara umum, yakni investasi dan belanja masyarakat alias konsumsi masyarakat.

Jika investasi tumbuh di atas 6 persen atau bisa mencapai 7,5 persen maka pertumbuhan 5,4 persen sangat realistis diraih. Begitupun ketika konsumsi masyarakat naik di atas 5 persen, itu akan memberikan dampak besar terhadap naiknya pertumbuhan ekonomi nasional. Memang, sepanjang 2017 ada masalah terkait daya beli yang rendah yang kemudian menimbulkan perdebatan hebat.

Republika mencatat sejumlah peluang pada 2018 yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Peluang ini tidak hanya menaikkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga berdampak pada kualitas pertumbuhan yang diindikasikan dari seberapa besar lapangan kerja terbuka, pendapatan individu naik, UMKM bergemuruh, dan pembiayaan/kredit untuk  investasi bergerak.

Pertama, peluang dari program padat karya tunai yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani. Pemerintah melalui kementerian dan lembaga-lembaga negara menggelar program padat karya tunai di desa-desa mulai Januari 2018. Ada uang tunai yang masuk ke desa-desa dari program ini hingga Rp 18 triliun.

Program ini mencakup 100 desa di 10 kabupaten. Puan Maharani menyatakan pemerintah telah menetapkan target sebanyak 1.000 desa di 100 kabupaten secara keseluruhan pada 2018. Tujuannya, untuk mengintervensi dan menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan stunting atau kekurangan gizi.

Hari ini Presiden Jokowi meninjau pelaksanaan padat karya tunai irigasi kecil dan jalan produksi di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Jumat (23/2). Ia berharap, program padat karya tunai ini dapat meningkatkan peredaran uang di sejumlah daerah serta meningkatkan daya beli masyarakat.

Jokowi pun mengapresiasi kerja cepat yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dalam pelaksanaan program padat karya tunai di Desa Kukuh, Tabanan, Bali ini, sebanyak 25 warga terlibat dalam pembangunan jalan produksi sepanjang 592 meter. Proyek ini digarap dengan nilai Rp 600 juta dan akan dikerjakan selama tiga bulan.

Panjang pembangunan irigasi di sawah dengan luas 47,6 hektare adalah 600 meter. Jumlah pekerja yang terlibat sebanyak 150 orang dengan nilai proyek Rp 675 juta dan akan dikerjakan selama 50 hari. Warga yang terlibat dalam padat karya tunai ini juga akan menerima upah sebesar Rp 125 ribu per hari untuk tukang, dan Rp 85 ribu per hari untuk pekerja.

Selain program padat karya tunai, ada program dana desa dengan dana Rp 60 triliun. Program dana desa ini akan mendorong kenaikan belanja termasuk daya beli masyarakat.

Peluang kedua, dari Pilkada Serentak 2018. Pilkada Serentak 2018 diikuti oleh 171 daerah, terdiri dari 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Pemerintah menganggarkan dana hingga Rp 20 triliun untuk pagelaran politik ini. Angka itu belum termasuk biaya operasional para peserta pilkada serentak dan kenaikan jumlah uang beredar.

Dari data Indef, pada pemilu 2014 memberikan kenaikan 0,1-0,2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada Pilkada Serentak 2018 ini juga akan memberikan daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi sampai 0,4 persen.

Uang beredar pun akan naik antara 10-12 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp 694,8 triliun. BI mengaitkan kenaikan uang beredar ini salah satunya karena ada ajang Pilkada Serentak 2018 ini.

Ada nilai ekonomi besar dari AG mulai dari pembangunan infrastruktur seperti light rail train (LRT) di Jakarta yang jumlah investasinya mencapai Rp 20 triliun. Ini belum termasuk investasi Wisma Olahraga untuk atlet, venue-venue baru, perkampungan atlet, pembangunan jalan raya, hingga fasilitas-fasilitas lainnya mencapai puluhan triliun rupiah.

Negara-negara seperti Thailand, Korea Selatan, dan Cina –yang pernah menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade ini– telah memberikan contoh baik sukses penyelenggaraan Asian Games. Ekonomi mereka tumbuh lebih baik terutama dari sektor pariwisata, terutama setelah penyelenggaraan AG.

Khusus Jakarta dan Palembang dampak positif muncul di sektor perhotelan, wisata, kafe, restoran, katering, pusat perbelanjaan, travel, rental kendaraan, transportasi umum, hingga hiburan. Kegiatan UMKM pun semakin semarak dan bergairah dengan penjualan suvenir Asian Games dan oleh-oleh dengan karakter lokal.

Serapan tenaga kerja juga tinggi. Ini bisa dilihat dari pekerjaan infrastruktur hingga relawan yang akan bekerja pada Asian Games. Serapan tenaga kerja juga terjadi pada sektor-sektor pendukung suksesnya ajang olahraga empat tahunan ini.

Peluang keempat, dari tren kenaikan harga komiditas. Harga minyak diperkirakan naik menjadi 56 dolar AS per barel hingga 70 dolar pada 2018. Pada 2017 harga minyak berada di angka 53 dolar AS. Kenaikan harga terjadi akibat permintaan yang terus meningkat, pemotongan produksi yang telah disepakati para eksportir minyak dan stabilnya produksi shale oil di Amerika Serikat.

Dari perkiraan Bank Dunia, harga untuk komoditas energi –-termasuk minyak, gas alam, dan batubara-– diperkirakan naik 4 persen pada 2018 setelah meningkat 28 persen tahun ini.

Indeks logam diperkirakan akan stabil, setelah naik 22 persen pada 2017 sebagaimana harga bijih besi terkoreksi dan diimbangi oleh kenaikan harga logam dasar lainnya. Harga untuk komoditas pertanian, termasuk komoditas pangan dan bahan baku, diperkirakan turun pada 2017 dan meningkat pada 2018.

“Harga energi mulai pulih akibat permintaan yang stabil dan turunnya pasokan.. Namun hal ini akan banyak  tergantung pada apakah produsen minyak tetap berupaya melanjutkan penurunan produksi,” kata John Baffes, Ekonom Senior dan penulis utama Commodity Markets Outlook Bank Dunia. Pembangunan di Tiongkok akan berperan penting dalam pergerakan harga logam.

Indef memprediksi harga minyak bisa menyentuh 80 dolar AS per barel pada tahun ini. Kondisi ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan dari CIna dan Amerika Serikat. Pemulihan industri manufaktur di dua negara itu membutuhkan pasokan energi yang cukup besar. Sementara dari sisi suplai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian pemangkasan produksi minyak OPEC membuat harga bergerak naik.

Dari indikasi-indikasi ini, ekonomi Indonesia 2018 seharusnya tidak seburam tiga tahun terakhir.

Sumber : republika.co.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: