Implikasi Cukai Minuman Bersoda

20150113_010246_minuman soda

Di tengah masih terdepresiasinya nilai tukar rupiah, pemerintah berupaya keras meningkatkan penerimaan negara untuk mempersempit celah fiskal (defisit) baik dalam APBN 2015 maupun APBN tahun-tahun berikutnya. Seketika muncul pertanyaan : dari mana sumber penerimaan negara yang hendak digali oleh pemerintah? Utamanya adalah pajak. Maka tak heran bila pemerintah belum lama ini telah mengajukan kembali proposal ekstensifikasi obyek kena pajak berupa pengenaan cukai atas minuman berkarbonasi (bersoda). Benarkah proposal pemerintah ini akan cukup efektif untuk mendongkrak penerimaan negara? Penulis menjawab tidak. Berikut ini akan dipaparkan empat alasan mengapa proposal pemerintah ini justru akan kontraproduktif.

Pertama, pengenaan cukai atas minuman bersoda bukan alat yang tepat dalam meningkatkan penerimaan negara namun justru dapat berbalik mereduksi penerimaan negara. Mengapa demikian? Hasil riset LPEM FEB-UI 2013 menunjukkan bahwa proposal pengenaan cukai ini akan menyebabkan dampak tular (contagion effects) tidak hanya pada industri minuman bersoda saja namun juga berpotensi pada merosotnya output industri minuman ringan, penurunan penerimaan APBN, terganggunya kesinambungan fiskal, dan penurunan nilai output perekonomian nasional secara keseluruhan.

Poin penting di sini adalah tercapainya tujuan dari pengenaan cukai terhadap suatu barang ditentukan oleh elastisitas permintaannya. Semakin elastis maka pengenaan cukai bertujuan meningkatkan penerimaan pemerintah akan lebih mudah tercapai. Permintaan terhadap minuman bersoda bersifat elastic sehingga apabila Pemerintah mengenakan cukai terhadap produk ini dengan tujuan meningkatkan penerimaan negara maka akan sulit tercapai.

Kedua, minuman bersoda tidak termasuk dalam kriteria barang yang layak terkena cukai sebagaimana amanat Undang-Undang No. 39 tahun 2007 Pasal 2. Adapun kriteria barang yang layak terkena cukai dalam UU tersebut meliputi sebagai berikut: konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, dan pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Tak satupun dari empat kriteria tersebut yang sesuai dengan karakteristik minuman bersoda.

Maka rencana pemerintah untuk mengenakan cukai atas minuman bersoda ini sulit memperoleh justifikasi dari segi legal-formal. Apabila rancangan kebijakan ini tetap dipaksakan di kemudian hari akan berpotensi menjadi sasaran judicial review di MK atau gugatan di PTUN oleh para pemangku kepentingan.

Bukan kebijakan tepat

Ketiga, praktik pengenaan cukai atas minuman bersoda jelas merupakan kebijakan yang bersifat diskriminatif. Mengapa demikian? Setiap orang atau warga negara berhak atas perlakuan yang sama di depan hukum sebagaimana semangat UUD 1945 Pasal 28 D ayat 1. Apabila produk minuman bersoda dikenakan cukai oleh pemerintah lantas mengapa produk minuman ringan lainnya tidak? Ini tentu merupakan bentuk pelanggaran terhadap Pasal 28 D ayat 1 UUD 1945. Oleh karena itu segala kebijakan yang bersifat diskriminatif tentu harus dihindari.

Keempat, proposal pengenaan cukai atas minuman bersoda bukan merupakan jawaban atas minuman bersoda bukan merupakan jawaban atas kekhawatiran masalah kesehatan masyarakat. Hasil studi Astawan (2013) dan Cuomo dkk (2013) memperlihatkan bahwa dalam keadaan normal konsumsi atas minuman bersoda yang wajar pada umumnya tidak akan membahayakan kesehatan. Mengapa demikian?

Minuman bersoda tidak mengandung bahan berbahaya yang dilarang oleh BPOM sementara setiap produk minuman bersoda yang beredar di pasaran telah melalui pengujian yang ketat oleh BPOM. Selain itu tidak ada dasar yang kuat untuk membuktikan konsumsi minuman bersoda yang wajar dalam keadaan normal akan menyebabkan peningkatan resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti gangguan ginjal, diabetes, asam urat, dan gangguan lambung (Giriwono dkk, 2014).

Dengan demikian jika pemerintah berargumen bahwa rencana pengenaan cukai atas  minuman bersoda adalah untuk menaggulangi masalah kecenderungan peningkatan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) maka argumentasi tersebut tidak cukup kuat.

Dapat disimpulkan bahwa rencana pengenaan cukai atas minuman bersoda bukan merupakan bentuk kebijakan perpajakan yang tepat. Selain cukai sebenarnya masih terdapat beberapa cara yang lebih efektif bagi Pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan sekaligus menanggulangi masalah kesehatan.

Terkait upaya peningkatan penerimaan negara, pemerintah dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas administrasi perpajakan. Upaya ini jauh lebih efektif untuk mengurangi para penghindar dan pengemplang pajak. Selain itu, perbaikan kualitas administrasi perpajakan akan meningkatkan jumlah wajib pajak, pengumpulan pajak dari basis pajak yang sudah ada, dan tingkat kepatuhan wajib pajak sehingga pada akhirnya akan memperkuat basis penerimaan negara secara efektif dan berkeadilan.

Terkait upaya penanggulangan masalah kesehatan terutama terkait penyakit menular (PTM) yang disebabkan oleh gaya hidup, pemerintah dapat merancang kebijakan kesehatan yang dapat dioperasionalkan secara efektif sehingga mampu menghasilkan keluaran yang lebih baik dalam jangka panjang seperti misalnya konsultasi perawatan dasar, intervensi berbasis sekolah, dan beberapa rekayasa lingkungan untuk memperbaiki pola konsumsi atas makanan dan minuman yang sehat (OECD,2009).

Dengan demikian pemerintah akan lebih bijak apabila mempertimbangkan beberapa alternatif kebijakan seperti uraian di atas daripada pemberlakukan cukai apabila bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara dan sekaligus mengatasi masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gaya hidup konsumtif.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: