Ketar Ketir Kenaikan Harga Pangan

5Kenaikan harga pangan kali ini yang terburuk dalam tiga dekade terakhir

JAKARTA. Kenaikan harga pangan yang terjadi belakangan mulai menimbulkan kekhawatiran. Apalagi, Kepolisian juga mulai turun tangan dengan menelisik pihak di balik kenaikan harga pangan.

Tengok saja, harga daging sapi sudah menyentuh harga Rp 140.000 per kilogram (kg) dari normalnya hanya Rp 100.000 per kg. harga cabai pun makin pedas karena sudah menyentuh level Rp 70.000 per kg, jauh di atas harga normal yang hanya sekitar Rp 30.000 per kg.

Harga daging ayam, telur bahkan harga sayur mayur ikut meroket, meninggalkan harga wajarnya. Jika harganya tak terkendali, ini bisa mendongkrak inflasi dan merobek kocek masyarakat.

Abdullah Mansuri, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyebut, lonjakan harga pangan saat ini adalah yang terburuk dalam tiga dekade terakhir.

Pasca Lebaran, harga pangan biasanya melandai. Namun, kini justru tak terkendali. Kondisi ini bisa mendongkrak angka inflasi di Agustus. “Kondisi ini tak bisa dibiarkan karena dapat merusak ekonomi nasional secara keseluruhan,” tandas Abdullah pada KONTAN, Senin (10/8).

Menurutnya, kenaikan harga pangan yang tidak wajar ini juga telah menekan omzet pedagang di pasar hingga 40% lantaran daya beli masyarakat turun drastis.

Namun, pemerintah nampaknya masih anteng. Rachmat Gobel, Menteri Perdagangan meyakinkan pasokan pangan, seperti beras dan daging sejatinya masih cukup untuk memnuhi kebutuhan masyarakat. Hanya paskan beberapa komoditas hortikultura seperti sayur mayur, berkurang di pasar.

Rachmat melihat, ancaman dampak kekeringan terhadap produksi pangan kian nyata. Saat ini, pemerintah berupaya merekayasa cuaca dengan membuat hujan buatan.

David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA) menyebutkan, ada tiga faktor penyebab kenaikan harga pangan. Pertama, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menekan impor bahan pangan. Kedua, data yang simpang siur antar instansi pemerintah jadi biang keladi kesalahan pengambilan keputusan. Ketiga, spekulan yang memanfaatkan untuk mencari keuntungan.

Menurut Rachmat, Kementerian Perdagangan juga suapkan opsi terakhir jika pasokan pangan kian bermasalah. “Impor jadi solusi untuk situasi terburuk yang terjadi pada komoditas pangan,” tuturnya.

Tapi, tercium dugaan, ada spekulan ikut mendorong kenaikan harga dengan menahan stok demi mendapatkan kuota impor. Ini pula yang membikin korps pimpinan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti ikut menyisir importir pangan yang nakal.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: