Harga Pangan Kita Termahal di ASEAN

JAKARTA. Mahalnya harga pangan di Indonesia bukan isapan jempol belaka. Pengakuan ini datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menilai harga pangan di Tanah Air lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lain dengan tingkat perekonomian yang setara. Bahkan, jika dibandingkan dengan skala regional di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), harga pangan di Indonesia masih tergolong tinggi

Berdasarkan data yang dihimpun KONTAN per Januari 2016, harga komoditas daging sapi dan daging ayam menunjukkan bahwa harga jual di Indonesia lebih mahal ketimbang di Malaysia dan Thailand. Dengan harga daging sapi saat ini rata-rata Rp 119.000 per kilogram (kg), Indonesia mengalahkan harga daging sapi di Malaysia, Thailand, dan Filipina yang jika dikonversi dalam mata uang rupiah, masing-masing hanya sekitar Rp 70.000 sampai Rp 109.000 per kg.

Begitu juga dengan harga daging ayam di Indonesia saat ini bertengger di angka Rp 41.000 per kg. Harga ini lebih mahal ketimbang ayam di Malaysia dan Thailand yang rata-rata hanya seharga Rp 37.000 dan Rp 38.000 per kg.

Barangkali mungkin harga beras yang bisa disebut lebih kompetitif dari yang lain. Saat ini, harga beras premium rata-rata di Indonesia adalah Rp 11.000 per kg. Angka ini lebih rendah ketimbang di Malaysia dan Thailand yang masing-masing dijual di angka Rp 13.000 dan Rp14.000 per kg.

Hanya saja, harga beras Indonesia bukan yang termurah. Sebab, Vietnam bahkan bisa menjual beras di harga Rp 10.000 per kg.

Perbandingan harga tiga komoditas ini di tingkat regional tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah belum mampu menjaga harga pangan yang terjangkau.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut, mahalnya harga pangan ini lantaran rantai distribusi pangan dari petani sampai ke konsumen cukup panjang. “Kami sudah membicarakan dengan Presiden Jokowi terkait hal ini,” ujarnya kepada KONTAN, Senin (1/2).

Salah satu upaya untuk memangkas harga adalah dengan menugaskan Bulog menyerap langsung bahan pangan dari petani dan menjualnya langsung ke konsumen.

Abdullah Mansuri, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mengakui bahwa harga pangan saat ini mahal dan cenderung tak wajar, sehingga masuk kategori termahal di kawasan ASEAN.

Masalah data pangan dan penerapan kebijakan yang salah membuat harga pangan di Indonesia rapuh dan rawan bergerak tak terkendali. Sebagai contoh, harga daging ayam yang langsung naik ketika harga jagung dan pakan melambung. Begitu pula dengan harga daging sapi yang melejit karena ada kebijakan penerapan Pajak Petambahan Nilai (PPn) impor 10%.

Khudori, Pengamat Pertanian menambahkan, selama ini, harga pangan menyumbang 61% dari inflasi nasional sepanjang tahun lalu. Karena itu, masalah pangan perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah. Selama ini, pemerintah cenderung reaktif ketika ada lonjakan harga komoditas. Alhasil, kebijakan yang diambil hanya parsial dan terbatas, yang berujung pada tak selesainya masalah dan berpotensi terulang di kemudian hari.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: