Napas Pusat Perdagangan makin Tersengal

Pamor ITC tergerus penurunan daya beli dan persaingan dengan toko daring.

Ada masa ketika International Trade Center (ITC) Berjaya. Di puncak kejayaannya, tak sedikit pengembang coba meniru konsep pusat perdagangan yang jadi brand pengembang dari sekelompok usaha Sinar Mas ini. Saat itu, di bawah bendera Duta Pertiwi, pembangunan ITC menjamur, dimulai dari kawasan Mangga Dua menyebar ke penjuru ibu kota dan kota-kota lain, seperti Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Surabaya.

ITC Mangga Dua, ITC Kuningan, ITC Roxy Mas, ITC Cempaka Mas, dan ITC Surabaya mega Wholesale adalah beberapa ITC yang terbilang ramai pengunjung. Berbeda dengan konsep mal yang menyewakan ruang, trade center menjual toko-toko di dalamnya sebagai miliki pribadi. Dan, setiap kali ada rencana pembangunan ITC, para pedanagn segera memburunya. Sebab mereka yakin, toko di ITC mendatangkan cuan.

Jargonnya ketika itu, konsumen tidak perlu jauh-jauh ke Mangga Dua untuk mendapatkan barang berkualitas dengan harga miring. Pilihan produk pun sangat beragam. Alhasil, ketika itu ITC rata-rata ramai pengunjung dan semoat menjadi barometer perputaran uang di suatu wilayah.

Namun, beberapa tahun terakhir, pamor trade center milik Sinar Mas Land ini mulai meredup. Perlambatan ekonomi di dalam negeri sejak awal tahun lali melemahkan daya beli masyarakat, terutama yang berpendapatan pas-pasan. Akibatnya, kunjungan ke pusat-pusat perdagangan juga berkurang. Ini terlihat antara lain dari berkurangnya jumlah kendaraan yang masuk ke area parkir ITC dan sekitarnya. Dulu, mencari tempat parkir bisa sangat sulit. Kini, pengunjung bisa dengan gampang mencari tempat parkir.

Selain daya beli masyarakat yang turun, ITC juga menghadapi persaingan bisnis ritel yang semakin sengit. Pertama, trade center menghadapi persaingan dengan pembangunan pusat perbelanjaan antawa mal yang marak. Dengan konsep life style yang modern dan unik, mal lebih menarik bagi masyarakat, walaupun mereka sekedar melihat-lihat. Adapun bagi peritel, system sewa di mal ritel saat ini terasa lebih menarik kearena bisa lebih murah ketimbang membeli unit toko di ITC.

Kedua, pedagang di ITC juga menghadapi kompetisi dengan menjamurnya seperti toko-toko online dan market place. Dibandingkan dengan toko offline di ITC maupun mal, e-commerce memiliki keunguulan. “Mereka tidak perlu membayar berbagai biaya, seperti pajak, gaji karyawan, biaya distribusi, biaya perizinan, dan berbagai aturan lainnya,” ujar Tutum Rahanta, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

Omzet turun 20%-50%

Memang benar, berdasarkan penulusaran KONTAN, banyak ITC tampak lebih lengang . Tak sedikit gerai yang tutup. Penurunan omzet pun tak bisa dihindari. Sejumlah pedagang yang ditemui KONTAN mengaku penurunan omzet telah terjadi sejak awal tahun lalu dan semakin merosot selama tiga bulan pertama tahun ini. “Jualan ramai pas momen-momen tertentu saja, seperti lebaran dan libur sekolah,” ujar Nurul, karyawan toko busana muslim Lubna di ITC Depok.

Di luar waktu itu, penjualan praktis sepi, Dari emoat toko yang ada, kata Nurul, hanya toko yang menjual pakaian remaja yang penjualannya masik stabil. “Kalau dihitung dari tahun lalu, penurunan omzet penjualan sampai 20%,” tuturnya.

Pedagang lainnya, Gandi, memaparkan , mesti memangkas margin keuntungan akibat penjualan tidak mencapai target. “Biasanya paling sedikit sehari bisa laku sampai 25 buah. Kalau sepi begini, bisa jual lima buah juga sudah bagus,” keluhnya yang menjual tas dari harga Rp 100.000-Rp 300.000 per unit di lantai dua ITC Depok.

Penurunan omzet juga dialami pedagang di ITC Kuningan. Rency, pemilik butik Maggie Joey, mengaku, penjualan menciut 30% sejak akhir 2015. “Saat penjualan bagus bisa Rp 30 juta per bulan, kini hanya Rp 20 juta per bulan,” terangnya.

Celakanya, saat pembeli sepi, beban usaha lebih berat. Menurut Rency, dulu ia membayar sewa toko Rp 50 juta per tahun, kini sudah naik menjadi Rp 60 juta per tahun. Maklum, ia tak memiliki toko sendiri. “Itu belum termasuk biaya pengelolaan Rp 1 juta per bulan dan upah pekerja,” sebutnya.

Natal, karyawan toko busana wanita Ewi Collection di lantai dua ITC Cempaka Mas, bahkan mengaku belum menjual barang sejak Senin (28/3) hingga Kamis (31/3). “Kondisi saat ini tidak bisa ditebak, walaupun awal gajian dan akhir pekan, tetap saja pengunjungnya sepi,” ujarnya sembari memetik gitar untuk mengusir suntuk.

Natal bilang, pengunjung ITC Cempaka Mas mulai berkurang sejak Empat tahun lalu. Selain dampak penurunan daya beli, ia berpendapat, penjualan di ITC turun akibat menjamurnya bisnis daring yang menawarkan harga lebih murah. “Sekarang ITC juga kalah bersaing dengan mal-mal yang bari dibangun di Jakarta,” imbuhnya.

Sepinya pembeli juga dirasakan pengusaha makanan di foodcourt ITC Permata Hijau. Keberadaan apartemen di kompleks ITC ini ternyata tidak banyak menolong. “Dulu, saat masih ramai, omzet bisa Rp 3 juta per hari. Sekarang Cuma Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta sehari,” keluh Indri, pemilik Kedai Mas Indra.

Padahal, biaya sewa naik. Saat memulai usaha tahun 2010, sewanya Rp 22 juta per tahun. Kini, ia harus membayar Rp 27 juta per tahun.

Penurunan omzet paling parah menimpa usaha elektronik komputer, dan aksesori komputer di ITC Kuningan. “Omzet turun hingga 50%,” aku Dodo, karyawan kios penjual aksesori komputer. Sebelumnya, penjualan bisa tembus Rp 300 juta per bulan. Sekarang cuma Rp 150 juta per bulan.

Dodo bercerita, penjualan di tokonya mengalami penurunan sejak 2012. Tapi yang apling parah adalah dua tahun terakhir. Awalnya, usahanya menempati dua lapak dengan lima karyawan. Kini, hanya satu lapak dengan dua karyawan.

Sementara, hester, pemilik usaha kedai kopi Rhema Coffe dan kedai Jamu Putri Ayu di ITC Permata Hijau, masih beruntung bisa mempertahankan usahanya. Maklum, sang pemilik toko temannya sehingga sewa tidak dinaikkan. Saban bulan Hester membayar sewa kios Rp 8 juta, tapi belum termasuk biaya perawatan, Rp 1,1 juta per bulan. Jika dikalkulasi, biaya operasionalnya mencapai Rp 21,2 juta per tahun.

Tapi ia mengakui, sejak 2014 angka penjualan terus menurun. “Kalau tidak ada bisnis lain, pasti sudah tutup usaha ini,” jelas Hester yang juga berbisnis jual-beli property.

Wan Wan, penanggung jawab Toko Kubik di lantai 4 Blok B No.92 ITC Mangga Dua, mengungkapkan, tokonya yang menjual aneka pakaian pria terpaksa tutup karena sudah tidak menguntungkan secara bisnis. “Kalau saya bilang sekarang ramai, pasti bohong banget. Di Pasar Tanah Abang juga sepi,” ujarnya yang enggan menyebut jumlah penurunan omzet.

Setelah usahanya tutup Wan Wan menyewakan gerai itu ke pihak lain. “Ada tiga unit toko yang akan disewakan seharga Rp 95 juta per tahun. Kalau ambil dua pintu, harga sewanya Rp 85 juta,” jelasnya.

Tutum bilang, tanpa capur tangan pemerintah, banyak toko offline akan terancam mati. Nah, apakah napas ITC akan benar-benar terhenti atau bisa kembali berdegup kencang seiring pemulihan daya beli.

 

Sumber: Tabloid Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: