Populasi Sapi Perah Turun, Impor Susu Terancam Naik

JAKARTA. Produksi susu dalam negeri dipastikan turun drastis seiring terus menyusutnya populasi sapi perah di dalam negeri. Data sensus sapi dan kerbau Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 menunjukkan, populasi sapi perah sebanyak 597.000 ekor, termasuk sapi jantan.

Namun, hasil sensus tahun 2013 menyebut data populasi sapi perah turun drastis menjadi 444.000 ekor. “Sekarang diperkirakan jumlah sapi perah betina hanya 300.000 ekor dan yang laktasi sekitar 200.000 ekor,” kata Teguh Boediyana, Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN), Senin (30/5).

Teguh menjelaskan, saat ini produksi susu segar hanya memenuhi sekitar 18% dari kebutuhan susu nasional. Adapun rata-rata produksi susu sapi hanya 1.600-1.800 ton per hari. Sementara perhitungan Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS), pada 2020, produksi susu segar dalam negeri hanya memenuhi 10% kebutuhan susu nasional. Saat itu Indonesia sekurang-kurangnya harus mengimpor 5,9 juta ton susu segar senilai Rp 30 triliun per tahun.

Bila kondisi ini terus dibiarkan, ketergantungan akan susu impor semakin tinggi. Menurut Teguh, pemerintah harus segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan ini.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain segera menerbitkan payung hukum setara Peraturan Presiden sebagai pengganti Instruksi Presiden No.2 Tahun 1985 tentang Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Persusuan.

Selain itu, perlu meningkatkan populasi melalui impor sapi perah dengan pola subsidi sekurang-kurangnya Rp 20 juta per ekor agar sapi tersebut masih layak untuk kredit dengan tingkat bunga maksimal 4% per tahun dan jangka waktu kredit tujuh tahun. “Subsidi harus dilakukan mengingat harga sapi perah impor di kisaran Rp 35 juta-Rp 40 juta per ekor,” ujarnya.

Menurutnya, program ini sekaligus untuk meningkatkan skala pemilikan sapi menuju skala ideal secara bertahap. Ia juga berharap, pemerintah membantu membuat terobosan untuk mengurangi ketergantungan pemasaran susu ke industri pengolahan susu (IPS). “Caranya bisa dengan mengambil kebijakan dengan melaksanakan program susu untuk anak sekolah berbasis susu segar,” ujarnya.

Teguh juga meminta pemerintah membantu pengadaan infrastruktur untuk usaha peternakan sapi perah, seperti menjamin ketersediaan air bersih. “Selain juga perlu membangun pabrik pakan ternak sekurang-kurangnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk memproduksi complete feed,” jelas Teguh.

Direktur Perbibitan dan Produksi (Dirbitpro) Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kemtan Surachman Suwandi belum mau menanggapi lebih jauh permintaan tersebut.

Yang jelas, sejauh ini Kemtan memang masih fokus melakukan pengembangan sapi pedaging ketimbang sapi perah. Karena itu, sampai sekarang belum ada solusi dari Kemtan terkait terus menurunnya populasi sapi perah di tanah air.

Sumber: Harian Kontan 31 Mei 2016

Penulis : Noverius Laoli

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: