Inflasi Mei Rendah Jadi cermin Ekonomi Lambat

JAKARTA. Tren inflasi rendah diperkirakan akan berlanjut hingga Mei 2016. Hasil survey pemantauan harga pekan ketiga Mei 2016 oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan inflasi bulanan pada Mei 2016 sebesar 0,19% dan inflasi tahunan sebesar 3,3%. Hanya saja, rendahnya inflasi pada Mei 2016 perlu diwaspadai.

Dibandingkan inflasi menjelang Ramadhan pada lima tahun ke belakang, tekanan inflasi mei tahun ini tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dalam lima tahun ke belakang rata-rata laju inflasi bulanan menjelang puasa selalu berada di atas 0,5%.

Pada Juni 2015, inflasi tercatat 0,54%, inflasi Juni 2014 sebesar 0,43%, inflasi Juni 2013 sebesar 1,03%, inflasi Juni 2012 sebesar 0,7%, dan inflasi Juni 2011 sebesar 0,67%.

Gubernur BI Agus Martowardjojo mengatakan, rendahnya inflasi pada Mei 2016 disebabkan tekanan harga komoditas hortikultura seperti penurunan harga cabai. Namun pemerintah perlu memperhatikan harga daging ayam, karena menjelang puasa harganya merangkak naik. Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung sebelumnya juga mengatakan jika tren deflasi seperti yang terjadi pada April 2016 dan Februari 2016 tidak akan terjadi di Mei 2016. “Dampak penurunan harga bahan bakar minyak sudah habis,” kata Juda.

Pantauan BPS menunjukkan, sampai pekan kedua Mei 2016, komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain gula, minyak goring, daging ayam, dan gas elpiji. Sementara komoditas yang turun harga adalah beras dan cabai merah. Sebab itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan sulit terjadi deflasi pada Mei 2016.

Permintaan melemah

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan juga mengatakan, rendahnya inflasi pada tahun ini merupakan cerminan dari perlambatan ekonom yang masih terjadi dan bukan dampak dari kebijakan BI mengendalikan moneter. “Dengan kondisi ekonomi yang melambat, inflasi bisa lebih rendah lagi,” katanya. Akibat belum bergerak, pertumbuhan ekonomi berisiko rendah.

Ekonom Samuel Asset management Lana Soelistianingsih mengatakan, rendahnya inflasi pada Mei 2016 merupakan kombinasi pergeseran musim panen padi ke bulan April dan Mei, Isu pembukaan keren impor, dan permintaan konsumen yang melemah.

Melemahnya permintaan tercermin dari penjualan yang melambat, seperti penjualan kendaraan bermotor bulan April yang negatif, penjualan semen juga negatif, dan penjualan ritel yang mengalami pertumbuhan lebih lambat dibanding bulan sebelumnya.

Lana juga melihat ketidakjelasan pencairan gaji ke-13 dan 14 untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal itu berpengaruh secara psikologis terhadap pengeluaran masyarakt. Sehingga membuat masyarakat memilih menahan pengeluaran sampai ada kejelasan dari pemerintah. “Ini patut diwaspadai karena bisa jadi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini tidak sebaik tahun lalu,” kata Lana.

Lana memproyeksikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal II tahun ini hanya akan mencapai 4,98% year on year (YoY). Perkiraan itu hanya tumbuh tipis jika dibandingkan kuartal pertama 2016 yang sebesar 4,95%

 

Sumber: Harian Kontan, 31 Mei 2016

Penulis : Adinda Ade Mustami, Muhammad Yazid

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: