Dan Pasar Pun Kalah

864f3-takut2bbrangkrut2bsingapura2bgelar2bkampanye2bnegatif2bhadapi2btax2bamnesty2bindonesia

Ketegangan global itu berakhir sudah. Bagi dunia keuangan, pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), kemarin, berakhir anti-klimaks. Kandidat presiden jagoan pasar, Hillary Clinton, kalah telak. Donald Trump yang selama masa kampanye menjadi momok kalangan keuangan dunia justru bakal melenggang ke Gedung Putih.

Pasar pun ketakutan. Meski ketika perhitungan hasil voting berlangsung Wall Street masih tutup kantor, instrumen-instrumen derivatif yang diperdagangkan selama 24 jam menampakkan reaksi betapa pelaku pasar begitu getun. S&P 500 Futures ambrol sampai sedalam 5% ketika Trump dipastikan menang. Nasdaq Future juga sempat anjlok sampai sedalam 4,8%. Begitu pula dengan Dow Futures yang juga sempat ambles hingga 3,6%.

Kekecewaan bukan hanya melanda investor dan trader instrumen keuangan di AS. Bursa-bursa keuangan di kawasan Asia yang saat perhitungan berlangsung sedang buka pun menampakkan reaksi seketika. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta turun 1,03%; Hang Seng di Hong Kong turun 1,01%; Nikkei di Tokyo ambrol 5,30%; dan FTSE di London tertekuk 0,36% (sampai tajuk ini ditulis).

Reaksi negatif pelaku pasar terhadap kemenangan Trump ini termasuk luar biasa. Terakhir, ketegangan semacam ini terjadi ketika Inggris menggelar referendum yang mempersilakan rakyatnya untuk memilih: Inggris keluar dari Uni Eropa atau tidak. Tatkala hasil referendum menunjukkan rakyat Inggris memilih bercerai dari Uni Eropa, indeks-indeks saham seluruh dunia pun bertumbangan. Saat itu para pelaku pasar sedunia menghendaki Inggris tetap berada di pelukan Uni Eropa.

Ini fenomena menarik. Kehendak pasar ternyata kalah oleh kehendak rakyat di dua pemungutan suara yang menegangkan secara global.

Selama ini sikap dan persepsi pasar sering dijadikan legitimasi atas berbagai kebijakan pemerintah. Ketika   pasar menganggap baik sebuah kebijakan, maka seolah kebijakan tersebut benar-benar baik. Pasar –komunitas semu yang bersatu berdasarkan persamaan kepentingan mendulang profit– acap menjadi acuan dan tujuan kebijakan.

Melihat fenomena yang terjadi di Inggris dan AS, kini seharusnya para penguasa di seluruh dunia menyadari perubahan ini. Pasar tak lagi mewakili rakyat. Nilai kapital tak lagi mencerminkan jumlah suara. Jangan lagi gegabah mengambil kebijakan semata-mata karena pertimbangan pro-pasar. Atau, rakyat akan menghukum lewat pemilu.

Penulis: Hasbi Maulana

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar