Bursa Dihantui Laju Penurunan Minyak

JAKARTA. Harga minyak kembali tertekan. Bahkan Kamis (4/5), harga minyak WTI kontrak pengiriman Juni 2017 sempat menyentuh US$ 45,54 per barel, posisi terendah harga minyak sejak Agustus 2016. Harga minyak mulai naik ke US$ 46,22 per barel pada Jumat (5/5), tetapi masih ada potensi koreksi.

Tak ayal, tren penurunan harga minyak mulai membayangi bursa saham, utamanya emiten saham berbasis minyak. Harga saham Medco Energi Internasional (MEDC), misalnya, turun 15,3% ke level Rp 2.530 per saham pekan lalu. Koreksi harga MEDC mengekor harga minyak yang turun 6,3% dalam sepekan terakhir.

Andy Wibowo Gunawan, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai, dalam jangka pendek gerak harga minyak masih fluktuatif, kendati sulit turun lagi kebawah US$ 40 per barel. “Memang belum ada tanda-tanda ada penurunan produksi OPEC, tapi harga minyak masih bergerak di rentang wajar,” ujar dia, Minggu (7/5).

Hans Kwee, Direktur Insvesta Saran Mandiri, berpendapat, pertumbuhan manufaktur yang melambat juga berpotensi menekan permintaan minya di Tiongkok. “Penurunan yang sudah dalam ini seharusnya diiringi rebound terknikal, tapi tampaknya masih sulit kembali ke level US$ 50 per barel,” prediksi dia.

Sejumlah emiten di bursa efek indonesia akan terpengaruh koreksi harga minyak. Selain produksi minyak seperti MEDC, emiten jasa minyak dan gas seperti Elnusa (ELSA) pun bakal terkena efek negatif. Sepanjang pekan lalu, saham ELSA tertekan.

Andi menambahkan, emiten perkapalan seperti Wintermar Offshore Marine (WINS) dan Soechi Lines (SOCI) juga berpotensi terkena efek negatif.

Kepala Riset Erdhika Elit sekuritas Wilson Sofan, menilai, koreksi minyak akan merembet ke sektor komoditas lain, seperti batu bara. “Sentimen ini juga bisa menekan harga sham batubara dalam jangka pendek,” ungkap dia.

Tapi ada pula emiten yang diuntungkan oleh penurunan harga minyak. Analis First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, penurunan harga minyak bakal memangkas biaya sejumlah emiten. Mereka yang diuntungkan misalnya emiten transportasi dan sektor yang menggunakan bahan bakar minyak untuk produksi.

Garuda Indonesia (GIAA) bisa juga menekan biaya bahan bakar. Dus, GIAA bakal memperoleh margin lebih tebal. Emiten Konsumer seperti Indofood Sukses Makmur (INDF) bisa diuntungkan jika ongkos distribusi turun karena ada harga minyak melemah.

Wilson menilai, emiten yang memakai bahan bakar minyak untuk produksi, semisal Vale Indonesia (INCO), bisa mendapatkan ongkos produksi lebih baik pada tahun ini.

Ditengah kondisi ini, David menyarankan investor mulai ambil untung disejumlah saham energi, seperti MEDC dan ELSA. Hans juga melihat saham energi tak akan menjadi sektor yang booming di tahun ini.” Sebaiknya sektor energi hanya untuk trading jangka pendek,” kata Hans.

Namun, menurut Andy, harga minyak masih berpotensi membaik, sehingga investor yang memiliki profil resiko tinggi boleh membeli MEDC, ELSA dan WINS, ditengah penurunan harga. Adapaun David dan Hans lebih menyarankan posisi beli untuk saham sektor konsumer.

Sumber: Kontan, Senin, 8 Mei 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar