Realisasi Penerimaan Perpajakan Semester I Hanya Naik 9,6%

JAKARTA. Realisasi penerimaan perpajakan sepanjang semester I tahun 2017 mencapai Rp 571,9 triliun. Jumlah tersebut naik 9,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian itu disampaikan pemerintah saat penyampaian penjelasan pokok-pokok Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis lalu.

Penerimaan terbesar berasal dari sektor pajak penghasilan (PPh) yang hingga 30 Juni 2017 sudah terkumpul sebesar Rp 314,3 triliun atau 39,9% dari target APBN 2017 sebesar Rp 787,7 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, PPh terkumpul sebesar Rp 286,8 triliun atau 33,5% dari target APBN 2016.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, realisasi semester I-2017 akan sulit menopang target pertumbuhan 16,6% seperti dalam target APBN 2017. Melihat kondisi ini, pemerintah mengajukan revisi pertumbuhan perpajakan dalam RAPBNP 2017 yakni 12,9% atau turun Rp 50 triliun dari APBN 2017.

Darmin bilang, usulan angka yang dipatok pemerintah tersebut masih lebih tinggi dari pencapaian 2016 serta realisasi pertumbuhan penerimaan pajak sejak tahun 2012. Masih ada pertumbuhan meski tidak 16%. “Angka ini (16,6%) kalau dibandingkan dengan realisasi semester I kelihatannya sulit untuk dicapai karena pada semester I pencapaian kenaikannya hanya 9,6%,” kata Darmin dalam Rapat Kerja Banggar dengan pemerintah dan Bank Indonesia, Kamis (6/7).

Darmin bilang, perubahan ini dilakukan lantaran pemerintah lebih senang menurunkan target penerimaan daripada target tetap tinggi namun kemudian terpaksa dipotong. Namun ia menegaskan, penurunan target itu benar-benar dihitung berdasarkan kemampuan realisasi yang telah terjadi selama semester I. “Penurunan target ini merupakan upaya pemerintah untuk menciptakan target yang lebih realistis,” ujarnya.

Untuk menopang pencapaian target pajak sampai akhir tahun, pemerintah mengandalkan perluasan basis pajak berdasarkan harta deklarasi program amnesti pajak. “Mau tidak mau kita harus menggenjot reformasi bidang perpajakan. Barangkali sekurang-kurangnya ada dua hal. Pertama yang sifatnya jangka menengah adalah reformasi IT Ditjen Pajak. Dalam jangka pendek menyempurnakan metode yang efektif pengumpulan pajak,” katanya.

Reformasi di sisi IT Ditjen Pajak, menurut Darmin, masih perlu setahun atau dua tahun lagi hingga mulai terlihat dampaknya terhadap peningkatan penerimaan pajak. Pasalnya, saat ini perbaikan tersebut belum berjalan dan masih dalam tahap pengadaan di pemerintah.

Sumber : Kontan, Jumat 7 Juli 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: