RUU Sawit Dinilai Lebih Pro Asing

 

 

 

 

 

JAKARTA. Pro kontra Rancangan Undang-Undang (RUU) Pekelapasawitan terus berlanjut. RUU yang merupakan inisiatif dari DPR ini mendapat respon dari pemerintah melalui Kementerian Sekretarit Negara (Kemsetneg). Melalui surat benomor B.573/2017 tertanggal 22 Juni 2017 yang ditujukan ke Menteri Pertanian, Kemsetneg menyampaikan permohonan untuk menghentikan pembahasan RUU Perkelapasawitan.

            Dalam surat tersebut,ada tujuh poin alasan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno meminta menghentikan pembahasan RUU perkelapasawitan . Pertama, RUU itu dipandang tidak melindungi kepentingan nasional , dan lebih melindungi kepentingan korporasi penguasa industri ,yang sebagian besar merupakan perusahaan asing.

            Kedua,UU ini tidak diperlukan karena sebagian besar isinya telah termuat dalam UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup .Ketiga, RUU ini berpotensi menimbulkan disharmoni dengan UU terkait ,karena terdapat konsepsi pengaturan mengenai ketentuan pidana yang memberikan sanksi pidana yang lebih ringan terhadap pelanggaran dan penggunaan sarana yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan manusia.

            Keempat,RUU ini mengancam hutan dan gambut dengan cara memutihkan dan melindungi aktivitas illegal di kawasan hutan. Kelima, RUU ini lebih memberikan hak istimewa bagi para pengusaha besar dibanding petani kecil.

            Keenam,RUU ini berpotensi memperburuk konflik lahan dan sosial di sektor perkebunan dan ketujuh, RUU ini berorientasi kuat untuk memfasilitasi kepentingan asing dan mempertahankan status quo atas dominiasi penuasaan lahan di Indonesia.

DPR ngotot lanjut

      Ketua Panitia Kerja (Panja)

RUU Pekelapaswitan DPR Firman Soebagyo menyatakan tidak akan terpengaruh oleh surat itu. Ia menilai,seharusnya pemerintah tidak melakukan investasi.

            Apalagi,RUU ini sudah dibahas dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan mendapat persetujuan pemerintah. “Kami akan jalan terus.Tak boleh pemerintah mengintervensi,”tandasnya kepada KONTAN,akhir pekan lalu.

            Firman menilai,sebenarnya alasan pemerintah meminta penyetopan pembahasan RUU ini karena adanya permintaan dari Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) yang selama ini kerap menyerang sawit Indonesia. Padahal,kontribusi industrusi sawit mencapai Rp 300 triliun per tahun kepada pendapatan negara.

            Selain itu,kehadiran perkebunan kelapa sawit juga telah menjembatani kesenjangan ekonomi masyarakat di luar Pulau Jawa. Ada 1,7 juta hektare (ha) lahan petani di Riau yang belum jelas statusnya.

            Nah,RUU ini diharapkan menyelesaikan persoalan tersebut .RUU ini juga dinilai penting agar industri sawit dalam negri bisa bersaing dengan industri di Malaysia yang telah memiliki UU Perkelapasawitan ,yang lebih rigid. Karena itu,RUU ini akan mengatur hulu dan hilir perkelapawaitan nasional.

            Firman mengatakan telah meminta Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk melanjutkan pembahasan bersama DPR .Namun Amran enggan menanggapi polemic ini. “Sudahlah,itu tidak perlu dibahas lagi,” ujar dia.

            Salah satu pasal yang dinilai pro-asing dalam RUU itu adalah pasal 30 ayat 1,yang menyatakan pemerintah memberi fasilitas ke investor yang berinvestasi di perkelapasawitan .

            Ada lima pemilik perkebunan sawit swasta terbesar di Indonesia bisa yang menikmati RUU ini. Mereka adalah Sinar Mas Group,Salim Group,Jardine Metheson Group,Wilmar Group dan Surya Dumai Group. Saat ini,kelima kelompok usaha itu tercatat sebagai pemilik land bank perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia.

 

Sumber :Kontan Senin,10 Juli 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: