Daya Beli Masyarakat Menurun saat Lebaran, Ini Penyebabnya

JAKARTA. Daya beli masyarakat mengalami penurunan selama Lebaran. Daya beli masyarakat ini bahkan turun cukup drastis dibandingkan Lebaran tahun lalu.

“Pakaian itu sampai 30% dan penjualan di Tanah Abang itu rata-rata transaksi turun 25% sampai 30% dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu. Kemudian di minimarket, minimarket itu turunnya kecil cuma 2%, tapi tetap saja turun. Nah yang besar-besar seperti hypermarket itu turunnya sekira 15%,” kata Enny Kantor Indef, Jakarta Selatan, Senin (10/7/2017).

Sementara itu, sektor retail secara keseluruhan tercatat mengalami penurunan sebesar 10%. Namun, penurunan sektor retail ini tidak sebesar supermarket secara keseluruhan.

“Secara keseluruhan ini kan juga yang sembako tidak turun. Itu makananbasic tidak turun,” ungkapnya.

Penurunan ini, kata Enny, tidak terlepas dari masih melemahnya sektor industri dalam negeri. Hal ini pun turut menghambat daya beli masyarakat, utamanya yang bekerja pada sektor industri.

“Coba lihat perluasan lapangan kerja, industri dengan tumbuh 4,3% itu sudah pasti mengeluarkan tenaga kerja, atau PHK. Kedua, kemarin termasuk kalau Lebaran itu dapat gaji ke-13, itu terlambat,” ujarnya.

Melemahnya daya beli masyarakat ini juga disebabkan oleh pencabutan subsidi listrik. Hal ini pun memberikan andil yang cukup besar bagi inflasi.

“Lalu dari data BPS kenaikan energi 3,56%, kontribusinya 0,8%. Nah0,7%-nya itu dari TDL (tarif dasar listrik). Jadi listrik itu kontribusi terhadap kenaikan inflasi hampir 3%. Jadi yang namanya listrik itu punya multiplierefek, listrik yang 900 kv itu hampir semua usaha kecil mikro itu yang 900 kv. Nah begitu dia bayar listrik naik (subsidi dicabut) dia akan menaikan harga produknya,” ujarnya.

Menurut Enny, konsumsi rumah tangga pun akan sulit tumbuh hingga mencapai 5%. Artinya, ekonomi Indonesia diprediksi tidak akan mencapai 5% jika konsumsi tidak mengalami pertumbuhan.

“Kalau berdasarkan Juni, naiknya (retail) hanya sebesar 3%-4%. Padahal retail biasanya naiknya sekira 7%. Sehingga kalau retail hanya tumbuh 3%-4%, saya hampir yakin pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak akan lebih dari 5%. Kalau pertumbuhan rumah tangga tidak melampaui 5%, maka pertumbuhan ekonomi pun tidak akan jauh dari 5%, karena 54% (kontribusi dari) konsumsi rumah tangga,” tukasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar