Pemerintah Sebaiknya Menaikkan Cukai Rokok Setinggi Mungkin

Sebagai upaya menekan angka perokok di Indonesia, Pemerintah diharapkan menaikkan cukai setinggi mungkin sehingga harga rokok menjadi mahal dan masyarakat pun enggan untuk membeli.

Hal tersebut diungkapkan oleh Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif di sela-sela Workshop Pelatihan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Hotel Horizon, Selasa (22/8/2017). Menurut dia, Presiden Joko Widodo harus berani melakukan hal tersebut, karena kenaikan cukai rokok yang signifikan sudah terbukti efektif mengurangi jumlah perokok di beberapa negara.

Ahmad Syafii Maarif yang biasa disapa Buya Syafii melanjutkan, selain meningkatkan cukai rokok, perlu juga dilakukan langkah-langkah persuasif untuk mengurangi perokok di Indonesia. Ia menyebut, fatwa-fatwa haram yang dikeluarkan beberapa tokoh dan organisasi keagamaan tidak terlalu efektif.

“Agamawan memang terbelah menyikapi rokok. Muhammadiyah sudah mengharamkan rokok, tapi tetap banyak warga Muhammadiyah yang merokok, karena itu perlu ada langkah persuasif. Para kepala daerah juga harus bisa mencari strategi yang bagus dalam menerapkan Kawasan Tanpa Rokok [KTR],” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Buya Syafii juga berkomentar mengenai ketergantungan negara terhadap cukai rokok. Menurutnya, cukai rokok memang tinggi, tapi dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membiayai penyakit yang diakibatkan rokok juga tinggi.

“APBN yang dibuang untuk membiayai penyakit kanker lebih tinggi,” jelasnya.

9% Siswa SMP Perokok

Sementara itu, Ketua Aliansi Wali Kota dan Bupati Peduli KTR Hasto Wardoyo menyebut angka perokok pemula sudah sangat mengkhawatirkan. Dari hasil penelitian yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo tahun 2017, 9% siswa SMP kelas tujuh merupakan perokok.

“Ada 1.468 siswa yang diperiksa kencingnya. Itu baru di Kulonprogo saja, bagaimana kalau dilakukan di Sleman dan Kota Jogja juga. Pasti hasilnya luar biasa. Ini merupakan fenomena gunung es. Kita harus mencegahnya,” tutur Hasto Wardoyo.

Untuk mencegah meningkatkan perokok pemula, ia mengatakan Pemkab Kulonprogo sudah melarang penggunaan sponsor rokok pada acara olahraga maupun musik. Hasto Wardoyo mengungkapkan hal itu cukup efektif karena remaja tidak lagi bisa mendapatkan rokok gratisan.

Lebih lanjut Hasto menjelaskan, para pengusaha rokok selama ini selalu menggunakan tameng kesejahteraan petani untuk membenarkan bisnis mereka. Padahal, petani tembakau di Indonesia belum benar-benar diberdayakan secara maksimal.

Hasto mengungkapkan, kebutuhan tembakau di Indonesia untuk industri rokok per tahun adalah sekitar 330.000 ton. Sementara petani tembakau lokal baru bisa memproduksi tembakau sebanyak 180.000 ton per tahun, “Sisanya ya, impor. Kalau mau bela, jangan impor dong, karena produksi petani masih bisa ditingkatkan,” tutup Bupati Kulonprogo itu.

Sumber : solopos.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: