Impor Gas, Siapa Diuntungkan?

Entah sudah direncanakan sebelumnya atau sekadar memancing pendapat publik, tahu-tahu seorang pembantu Presiden yang berpangkat koordinator mengungkapkan keinginan pemerintah untuk melakukan impor Gas Alam Cair (Liqufied Natural Gas/LNG) dari Singapura. Impor dilakukan karena Singapura menawarkan LNG jauh lebih murah dibanding gas lokal. Nantinya gas tersebut bisa diserap Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang tersebar dengan kapasitas total 500 megawatt (MW).

Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, pembangkit listrik tenaga gas akan mengambil porsi 26,7 persen dari bauran energi (energy mix) di tahun 2026 sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026 mendatang. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan gas sebanyak 1.193 Trilion British Thermal Unit (TBTU), atau tiga kali lipat dibanding tahun 2016 sebanyak 606,5 TBTU. Dari jumlah tersebut, sebanyak 851 TBTU, atau 71,33 persen dari kebutuhan gas bagi pembangkit akan disediakan dari LNG.

Singapura yang dimaksud adalah perusahaan penjual gas asal berlabel Keppel Offshore and Marine. Usut punya usut, ternyata Keppel hanyalah koordinator dari sejumlah perusahaan pengekspor LNG. Itu artinya, perusahaan Negeri Jiran yang akan menyuplai kebutuhan gas Indonsia tidak sendirian, namun sebuah konsorsium.

Lebih dari itu, konsorsium pengekspor gas LNG pimpinan Keppel Corporation itu telah bertemu sejumlah pejabat tinggi Indonesia. Konsorsium ini juga telah mengajukan penawaran harga regasifikasi dan transportasi LNG di angka 3,8 dollar AS per MMBTU hingga 4 dollar AS per MMBTU, dan belum memasukkan harga gas hulunya.

Dengan demikian, jika tawaran konsursium itu diterima berarti harga impor LNG yang diterima bisa lebih besar dari ketentuan yang ada saat ini. Menurut Peraturan Menteri ESDM Nomor 45 Tahun 2017, harga gas LNG maksimal harus 14,5 persen dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di pembangkit listrik (plant gate). Dengan kata lain, jika ICP bulan Juli sebesar 45,48 dollar AS per barel, harga gas di plant gate harus berada di angka 6,59 dollar AS per MMBTU. Ini berarti, biaya regasifikasi dan transportasi yang ditawarkan perusahaan Singapura tercatat 57,66 persen hingga 60,69 persen dari harga gas maksimal yang diperbolehkan pemerintah.

Terlepas dari upaya Singapura menjajakan gas, pemerintah seharusnya tak langsung membuka wacana impor gas. Sebab, jika ini disampaikan pejabat publik sama saja dengan ingin menyatakan bahwa rencana impor gas dari Singapura hanya tinggal waktu saja. Apalagi, pemerintah juga mengembel-embeli impor gas dari Singapura terkait dengan hasil pertemuan Pemerintah Indonesia dan Singapura sebelumnya.

Agak susah memang mengikuti alur pemikiran pemerintah. Di satu sisi terus berupaya meningkatkan produksi dalam negeri, terutama gas, agar bisa diekspor sehingga menghasilkan devisa. Di sisi lain pemerintah malah mengandalkan impor gas dengan alasan lebih harganya lebih murah.

Anehnya lagi, sejumlah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang seharusnya mengawasi pemerintah seperti tidak peduli. Kalaupun ada yang berbeda pendapat, tapi tidak langsung membuat pemerintah mengubah keinginannya. DPR seperti tahu, tapi tidak mau memberitahu atau bagai kambing yang dimandikan alias malas mengkritisi pemerintah.

Kita berharap pemerintah sebaiknya fokus pada pengadaan gas dari dalam negeri. Kalaupun ada negara lain yang menawarkan lebih murah, sebaiknya menjadi introspkesi agar kita bisa menjual gas dengan murah juga.

Selain itu, pemerintah juga harus kritis terhadap negara yang tidak mempunyai ladang gas, tapi mampu menjual gas. Jangan-jangan, sebagian gas itu berasal dari Indonesia. Namun, yang lebih menyakitkan, jangan-jangan salah satu perusahaan yang ikut konsorsium Keppel Corporation adalah perusahaan asal Indonesia. Jika ini yang terjadi, berarti impor gas tidak jauh beda dengan kasus Petral sebelumnya.

Sumber : Koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: