Pelaku Startup Minta Pemerintah Lebih Lunak Soal Pajak

Wacana pengenaan pajak untuk startup teknologi masih belum disambut hangat dari kalangan pelaku industri. Plug and Play (PnP) Indonesia, perusahaan akselerator asal Silicon Valley, mengingatkan pemerintah bahwa startup adalah perusahaan rintisan.

“Begini, startup itu kan perusahaan rintisan yang baru mulai dan belum besar, kalau bisa ada keringanan pajak atau insentif untuk startup ini,” ujar Wesley Harjanto, President Director PnP Indonesia saat ditemui di Djakarta Theater XXI, Rabu (6/9).

Wesley juga ingin pemerintah menimbang peran anak muda yang sedang merintis usaha. Apabila pajak terlalu tinggi mengganjar mereka, ia khawatir akan menghambat kreativitas dan semangat startup.

“Jangan pendapatan baru sedikit, tapi sudah dikenakan pajak yang besar,” imbuh Wesley.

Sejatinya, pemerintah tengah menyiapkan aturan dan insentif untuk meringankan startup dari kewajiban pajak. Salah satunya adalah membebaskan pajak dari startup yang pendapatannya tidak lebih dari 4,8 miliar rupiah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri sudah memastikan pemerintah akan memberlakukan sistem aturan tersebut. Namun sejauh ini Sri Mulyani belum bisa banyak bicara mengenai itu.

Sebelumnya, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Direktorat Jenderal Pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan, aturan pajak tersebut akan tetap mengacu pada yang saat ini telah berlaku bagi badan usaha, yaitu dipungut Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Agar tidak membebani perusahaan e-commerce yang bersifat rintisan (startup), pajak PPh baru dipungut bila nilai pendapatannya melebihi 4,8 miliar rupiah atau di atas batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

DJP menyatakan aturan pajak tersebut diusahakan rampung akhir September ini atau paling lama di akhir tahun nanti.

Rata-rata startup digital lebih fokus membesarkan valuasi perusahaan dan meraup pangsa pasar secapat mungkin. Alhasil, di periode awal operasional, startup cenderung lebih banyak menderita.

“Kita kan kebanyakan di awal membesarkan valuasi bukan cash flow, ya tidak ada pemasukan juga kan,” ujar Azka Slimi, pendiri mesin pencari Geevv, dalam suatu kesempatan di Jakarta, beberapa waktu silam.

Sumber : cnnindonesia.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: