Daya Beli Terus Turun Mall Sepi Pengunjung

Sepinya pengunjung di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta‎ dinilai beberapa kalangan akibat semakin menurunnya daya beli masyarakat. Namun, tak sedikit yang beranggapan keberadaan sistem belanja online dinilai menjadi salah satu faktor adanya fenomena sepi pengunjung.

Potret tersebut, salah satunya terlihat di pusat perbelanjaan Plaza Blok M, kawasan Jakarta Selatan. ‎Pusat perbelanjaan yang sempat berjaya di era 90-an itu, kini nampak sepi, tak banyak pengunjung. Sebelumnya, pusat perdagangan Glodok juga sepi pengunjung.

Direktur Eksekutif Indonesian for Transparency and Akuntability (Infra) Agus Chaerudin, menilai,‎ pasca dilaksanakannya kebijakan ekonomi Nawacita oleh pemerintah Jokowi-JK, mengakibatkan multi effects yang sangat menyusahkan dan merugikan pengusaha-pengusaha pribumi. Serta, umumnya mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat.

“Dampak nyata kesalahan fatal kebijakan ekonomi tersebut salah satunya seperti tutupnya industri jamu Nyonya Meneer yang diikuti tutupnya Ramayana Departemen store. Tak hanya itu, dampak lainnya seperti tutupnya mayoritas pedagang di Glodok dan belakangan Matahari Depertemen Store di Kawasan Elite Seibu Blok M dan Pasaraya Manggarai,” katanya di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Peristiwa ironis ini diprediksi masih akan berlanjut apabila Presiden tak segera bertindak cermat, efektif dan cerdas. Dikhawatirkan, kondisi ekonomi Indonesia akan lebih parah dari kondisi ekonomi 1997.

Disisi lain, ‎pengelola mall kini mulai ketar-ketir dengan semakin berkurangnya jumlah pengunjung akibat menjamurnyaONLINE SHOPPING. Dampaknya sudah bisa dibaca, banyak kios-kios yang tutup dan memilih tidak melanjutkan sewa.

Ia menyatakan, situasi tersebut mulai terjadi seiring dengan perlambatan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia. Tak sedikit pemilik yang harus memutar otak agar mal tetap diminati untuk dikunjungi.
Pelambatan Ekonomi

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suharyanto, menyebutkan, fenomena sepinya pengunjung di mall, merupakan gejala pelambatan ekonomi. Ia menyebutkan, salah satu faktor yang menjadikan ekonomi di DKI melambat adalah masyarakat kelas menengah atas memilih menahan belanja dan lebih banyak menyimpan dana di perbankan.

Menurut di, keputusan masyarakat kelas menengah atas menahan belanja dipengaruhi sejumlah faktor diantaranya faktor psikologis menunggu kondisi ekonomi ke depan. “Dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi global,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) DKI, Sarman Simanjorang, mengatakan, masyarakat kelas menengah atas menahan belanja justru karena tidak memilki kepercayaan penuh untuk melakukan pengeluaran.

Ia menilai, daya beli masyarakat kelas atas masih ada. Namun, kata Sarman, tidak disalurkan. “Sehingga berdampak kepada tingkat konsumsi,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Ia menilai, motif masyarakat kelas menengah atas menahan belanja memang lebih dipengaruhi faktor kehati-hatian.

“Orang-orang menengah keatas lebih banyak saving, motif menahan konsumsi lebih ke jaga-jaga karena melihat outlook ekonomi dan resiko politik ke depan,” katanya.

Menurutnya, keputusan menahan belanja jelas berdampak kepada tingkat konsumsi. Selain itu, kata Sarman, tingkat konsumsi masyarakat kelas bawah juga terganggu akibat turunnya upah riil buruh bangunan dan buruh tani.

Sepi

Sekitar pukul 15.15WIB sebagian besar gerai yang terdapat di Plaza Blok M tampak buka. Beragam gerai menyajikan berbagai produk yang berbeda kepada konsumen. Mulai dari gerai makanan dan minuman, mainan anak, baju, dan berbagai kebutuhan lain.

Kendati buka, namun tak banyak aktivitas perdagangan yang terjadi di gerai-gerai tersebut. Malahan, sebagian besar penjaga toko di barisan lantai dua tampak terlihat duduk sembari asyik bermain handphone. Ada juga yang saling ngobrol satu sama lain. Pemandangan tersebut terlihat merata mulai dari lantai dua hingga lantai empat.

Beberapa penjaga toko, terutama toko pakaian dan pernak-pernik, yang masih mencoba menawarkan produk kepada beberapa pengunjung yang melintas di depan toko mereka.

“Ayo, silakan mba, silakan Bu, mampir. Kita ada diskon 20 persen sampai 70 persen,” teriak salah seorang penjaga didepan salah satu gerai yang menawarkan pernak-pernik bagi wanita.

“Saya hanya keliling-keliling saja di sini. Sudah lama juga tidak ke sini,” kata Andri (27), salah satu pengunjung.

Andri mengaku, sejak lima tahun terakhir dirinya tak pernah menginjakkan kakinya di Plaza Blok M. Pria yang berdomisili di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini mengaku lebih memilih faktor efisiensi waktu dan jarak tempuh. “Kalau Blok M lebih jauh dari rumah, makanya yang dekat-dekat aja,” ungkap dia.

Terhadap fenomena sepinya pengunjung ini, Harian Terbit berupaya meminta keterangan pengelola dan pengembang Plaza Blok M, yakni Pakuwon Group.‎ Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Pakuwon Group tak kunjung merespons.

Sumber : harianterbit.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: