Tarif Cukai Rokok Akan Naik Lagi

Jakarta. Setelah menaikkan tarif cukai rokok awal tahun 2017 sebesar 10,54%, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu) akan menaikkan tarif cukai rokok lagi pada tahun depan. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemkeu Heru Pambudi mengatakan, pihaknya akan segera mengumumkan rencana kenaikan tarif cukai rokok tersebut. “Secepatnya. Kalau tidak minggu ini, minggu depan,” katanya, Rabu (11/10).

Menururut Heru, kebijakan kenaikan tarif cukai produk hasil tembakau diambil setelah pihaknya mempertimbangkan faktor cukai sebagai instrumen pengendalian dan pengawasan atas peredaran, termasuk juga konsumsi oleh masyarakat. Pemerintah lanjut dia, juga mempertimbangkan penerimaan negara dan pajak kepentingan daerah.

Disisi lain, pemerintah juga mempertimbangkan beban petani tembakau maupun cengkeh. Petani tembakau dan produsen rokok tentu saja menginginkan tarif serendah-rendahnya, bahkan kalau bisa tidak mengalami kenaikantarif. “Sehingga bagaimana ini semua menjadi faktor yang mempengaruhi. Kami masih harus melakukan harmonisasi dan mempertimbangkan semua itu,” tambahnya.

Sayangnya, Heru masih menjelaskan lebih terperinci kenaikan tarif yang dimaksud. Yang jelas, lanjut dia, saat penguman nanti, pemerintah juga akan mengumumkan memangkas layer tarif cukai menjadi lebih sederhana, mengingat layer tarif cukai tembakau saat ini cukup banyak mencapai 12 layer.

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menolak kenaikan tarif cukai hasil tembakau. Ketua Departemen Media Center AMTI Hananto Wibisono menjelaskan, dalam penerimaan cukai tidak mencapai target. Hal itu menjadi salah satu industri hasil tembakau lesu akibat kenaikan tarif cukai.

Menurutnya, volume industri hasil tembakau akan turun rata-rata 4,8% pada tahun 2018. “Tarif cukai hasil tembakau harusnya dirumuskan secara hati-hati. Sebab kenaikan yang tinggi justru akan kontraproduktif,” katanya.

Padahal lebih dari enam juta rakyat Indonesia menggantungkan penghidupannya pada industri tembakau. Jumlah itu terdiri dari sekitar dua juta petani tembakau dan pekerjanya 1,5 juta petani cengkih dan pekerjanya, 600.000 tenaga kerja pabrikan rokok, dan dua juta pedagang.

Cukai Plastik

Selain menaikkan tarif cukai rokok, tahun depan Ditjen Bea dan Cukai juga bakal menerbitkan aturan cukai palstik. Menurut Heru, aturan tersebut ditargetkan bisa terbit sebelum tutup tahun 2017.

Dia menyatakan penerapan cukai plastik akan dilakukan bertahap dan untuk pertama kali akan dikenakan hanya pada plastik kresek. Sebelum beleid ini di terbitkan, Ditjen Bea dan Cukai akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan Komisi XI DPR.

Cukai plastik dilakukan bertahap dan hanya pada plastik kresek.

Setelah kebijakan tersebut disetujui oleh Komini XI, maka aturan tersebut bisa segera diimplementasikan. “Kemarin, sudah diagendakan, namun kita berharap ini bisa segera diputuskan,” kata Heru.

Untuk cukai plastik kemasan makan dan minuman masih belum akan diterapkan dalam waktu dekat. Hal itu, menurut Heru, karena pemerintah ingin fokus pada pengenaan tarif cukai untuk produksi plastik kresek.

Dengan tarif cukai sebesar Rp 100 per lembar palstik kresek, tarif cukai tidak akan disamaratakan. Sebab untuk palstik yang ramah lingkungan, Heru bilang akan dikenakan cukai rendah atau bahkan 0%. “Tidak akan disamaratakan, environment friendly kami kasih tarif rendah. Pabrik ramah lingkungan kita akan kasih insentif,” katanya.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: