Department Store, Riwayatmu Kini..

<i>Department Store</i>, Riwayatmu Kini..

Entah suka atau tidak, keberadaan department store secara perlahan harus berguguran. Satu persatu, eksistensi department store tumbang. Tren belanja daring alias online dinilai menjadi salah satu ‘biang kerok’-nya.

Ya, tren belanja online menjadi salah satu pertanda semakin berkembangnya zaman sekarang ini. Sebab, selain mudah, seseorang tidak perlu repot lagi mencari barang yang diinginkan dengan turun langsung ke lapangan -yang tentunya bagi sebagian orang ini melelahkan-.

Laporan Adstensity, monitoring iklan milik PT SIGI Kaca Pariwara, Jumat 27 Oktober 2017 memaparkan, bila melihat tren saat ini kecenderungan masyarakat kota-kota besar di Indonesia untuk berbelanja kebutuhan hidupnya mulai berubah dari yang konvensional beralih menjadi  jual beli online (retail online).

Hasil monitoring iklan televisi (TVC) Adstensity menunjukkan pada 2017 ini (Januari-September 2017) total belanja iklan dari sektor department store mencapai Rp40,41 miliar. Belanja iklan department store ini disumbang dari tiga brand, yakni Matahari, Metro, dan Ramayana.

Nominal dana belanja iklan department store terpaut cukup jauh dengan industri retail online yang disumbang dari sekitar 17 brand yang beriklan di televisi. Total belanja iklan dari industri retail online mencapai Rp1,25 triliun di 2017 ini (Januari-September 2017). Selain itu, jika melihat perbandingan year on year dengan 2016 (Januari-September 2016), dana belanja iklan dari kedua industri ini yakni department store dan retail online, dana belanja iklannya cukup berbeda dengan 2017.

Pada Januari-September 2016 industri department store mengeluarkan dana belanja iklan mencapai Rp80,90 miliar.  Sedangkan industri retail online terpaut cukup jauh diatasnya dengan dana belanja iklan mencapai Rp1,47 triliun.

Saat bertemu Menteri Keuangan Sri Mulyani Kamis 26 Oktober kemarin, Ketua bidang Ekonomi dan Bisnis idEA Ignatius Untung mengatakan, perkembangan ekonomi digital tentu akan menggerus ekonomi dan bisnis konvensional. Seperti yang saat ini terjadi, banyak toko ritel yang tutup.

“Kita bahagia kalau digital ekonomi naik, tapi kalau digital ekonomi naik ada korban yang turun, kita enggak bahagia,” kata Ignatius di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Kamis 26 Oktober 2017.

Ignatius mengatakan bisnis ritel konvensional harus siap-siap mengadopsi platform digital. Sebab, saat ini pola industri akan berganti di mana perkembangan teknologi tak bisa dihindarkan. Hal tersebut tentu akan membuat bisnis konvensional akan tergerus.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta sebelumnya pernah mengatakan banyaknya gerai ritel yang tutup dituding akibat daya beli masyarakat yang menurun. Usaha ritel bisa dikatakan sangat berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Kalau melihat ke belakang sebetulnya pelemahan (daya beli) ini dimulai sejak 2014. Puncaknya setelah Lebaran kemarin,” ungkap Tutum Rahanta dalam Newsline, Selasa 19 September 2017.

Kondisi yang sudah berlangsung sekitar dua bulan ini belum membuat pemerintah yakin bahwa usaha ritel memang lesu karena daya beli masyarakat yang menurun. Pemerintah justru berspekulasi bahwa hal ini terjadi akibat adanya shifting, perubahan pola konsumsi masyarakat yang beralih ke belanja online.

Sumber : metrotvnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: