Daya Beli Melemah, Waspadai Potensi Kredit Macet Properti

Daya Beli Melemah, Waspadai Potensi Kredit Macet Properti

Tren penurunan daya beli masyarakat yang dituding sebagai penyebab penutupan sejumlah gerai ritel belakangan ini, berpotensi menggerus pendapatan perusahaan properti kelas menengah atas yang menyewakan gerai di pusat perbelanjaan atau mal.

Hal ini kemudian akan menyulitkan arus kas pengembang sehingga harus merestrukturisasi pinjaman sebelum terlilit kredit macet. Selain itu, penutupan gerai ritel tersebut juga bakal memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan.

Apalagi, turunan sektor ritel dan properti sangat banyak, salah satunya ke industri pengolahan. Kondisi ini dikhawatirkan bakal menimbulkan ledakan pengangguran.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan kredit di sektor hunian kantor, bukan pusat perbelanjaan, titik baliknya terjadi pada 2017, sedangkan pusat perbelanjaan segmen yang beda lagi. Tingkat hunian baru 60 persen di Jabodetabek, jadi tidak semua terisi penuh.

“Itu menandakan kredit properti akan lesu dalam jangka waktu cukup lama karena setelah Lotus dan Debenhams, diperkirakan lagi beberapa perusahan ritel akan tutup perusahaannya di Indonesia,” kata dia, saaat dihubungi, Minggu (29/10).

Seperti dikabarkan, hingga saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha ritel yang menutup gerai usahanya akibat pendapatan tidak sesuai target perusahaan, di antaranya 7-Eleven dan PT Matahari Department Store.

Terbaru, Lotus Department Store dan Debenhams yang akan ditutup oleh PT Mitra Adi Perkasa Tbk pada akhir bulan Oktober dan akhir tahun ini. Bhima menambahkan apabila efek bola salju melemahnya daya beli makin besar, otomatis potensi kredit propertinya macet cukup tinggi.

“Saya kira bisa sampai 3,5 persen untuk properti khusus pusat perbelanjan. Apalagi, ada kecenderungan kelas menengah atas menahan belanja, jadi bisa sampai akhir 2018.

Dan, di Jabodetabek kelasnya menengah atas,” papar dia. Guna mengendalikan ledakan kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), menurut Bhima, perbankan mesti lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit untuk pengembang pusat perbelanjaan.

Kemudian, harus ada audit kinerja keuangan secara berkala. “Dan hal itu dalam kasus 7-Eleven tidak dilakukan. Sudah penjualan turun terus, tapi tetap disuntik kredit terus, sampai akhirnya kredit macet. Yang rugi akhirnya perbankan.

Jadi, harus ada audit kinerja keuangan, penjualan, dan kinerja secara khusus,” papar dia. Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, mengungkapkan penutupan toko-toko ritel belum berhenti atau masih akan berlanjut.

Namun, Tutum enggan mengungkap identitas tokotoko ritel tersebut. Dia hanya menjelaskan ritel yang akan tutup itu kebanyakan di sektor non-makanan.

“Sebenarnya hampir merata. Tapi yang besar adalah dari industri non-food. Kalau food pasti ngerem. Jadi, baru bilang kalau sudah mau tutup,” kata Tutum. Menurut dia, rencana penutupan toko itu berdasarkan konfirmasi langsung dari para pengusaha. “Ini ada beberapa toko yang sudah konfirmasi ke saya, akan tutup sekian toko atau pertumbuhannya akan saya kurangi’,” jelas Tutum.

Jangan Dibiarkan

Bhima mengingatkan tren penutupan gerai ritel itu tidak boleh dibiarkan. Sebab, jika hal itu sampai berlarut-larut, ancaman PHK bisa sampai 10 ribu orang. Apalagi, turunan usaha sektor ritel sangat banyak, salah satunya ke industri pengolahan.

“Artinya, kalau ritel turun maka industri pengolahanya akan terdampak,” jelas dia. Dia memperkirakan penurunan daya beli masyarakat terus terjadi hingga akhir 2017 karena perubahan gaya hidup dan kebijakan pemerintah yang dianggap membebani masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Misalnya, untuk 20 persen masyarakat paling atas, pergeseran belanja dan perubahan pola konsumsi. Sementara itu, kelas menengah ke bawah karena pencabutan subsidi listrik 900 VA, tetapi pendapatan masyarakat tidak naik dan terus tergerus inflasi,” jelas dia.

Berdasarkan kajian Indef, perubahan pola konsumsi masyarakat atas dan masyarakat menengah ke bawah yang sedikit memiliki uang, rupanya menggerus penjualan ritel, khususnya di sektor elektronik dan fashion.

“Tapi, makanan dan restoran itu cukup stabil. Artinya, yang turun itu yang jualan busana jadi dan elektronik,” kata Bhima. Peritel yang menjual produk elektronok dan fashion selama semester I-2017 rata-rata omzetnya turun 20 persen di banding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan pusat perbelanjaan yang juga menjadi pusat kuliner justru mengalami kenaikan omzet rata- rata 14 persen.

Sumber : koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: