“Department Store” Banyak yang Gulung Tikar karena Kurang Beriklan?

Suasana Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai, Jakarta, Selasa (19/9/2017). PT Matahari Department Store Tbk memastikan akan menutup dua gerai yang berlokasi di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai pada akhir bulan September 2017 akibat pusat perbelanjaan tersebut sepi pengunjung.

Satu per satu gerai departement storeternama berguguran. Teka-teki seputar penyebabnya, mulai dari tekanan ritel online hingga penurunan daya beli, menjadi perdebatan publik.

Namun, bila dilihat dari sisi promosi, yang tercermin berdasarkan iklan, department store sudah kalah jauh dari ritel online. Begitu data riset Adstensity yang merupakan produk monitoring iklan televisi milik PT Sigi Kaca Pariwara.

Dari Januari-September 2017, iklan departement store di televisi mencapai Rp 40 miliar, angka ini menurun 50 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, iklan ritel online di televisi justru mencapai Rp 1,2 triliun sejak Januari-September 2017. Angka ini belum ditambah iklan di media cetak dan online yang juga aktif dilakukan oleh ritel online.

“Jadi untuk iklan tv, ritel jaman ini (online), sangat tinggi dan jauh sekali (dari departement store),” kata VP Operations Sigi Kaca Pariwara, Ridho Marpaung dalam acara talkshow Radio Trijaya FM, Jakarta, Sabtu (28/10/2017).

Saat ini tutur dia, ritel online yang iklan di televisi mencapai 16 perusahaan. Delapan di antaranya, memilki nilai iklan di atas Rp 40 miliar, atau lebih besar dari seluruh iklan departement store.

Sementara itu departement store yang aktif beriklan di televisi hanya 3 yaitu Matahari, Ramayana, dan Metro Departement Store.

Meski begitu, Ridho tidak bisa memberikan penjelasan analisis apakah nilai iklan berpengaruh kepada perkembangan bisnis department store atau tidak, termasuk dampak kepad tutupnya beberapa gerai departement store.

Menurutnya, para ekonom perlu melakukan analisa mendalam terkait penyebab pasti gugurnya departemen store. Adstensity tutur dia, hanya menampilkan riset seputar data iklan.

“Untuk menaikan belanja iklan atau tidak, itu kembali ke department store-nya. Belanja iklan juga harus memperhatikan pendapatan, peluangnya seperti apa, dan karena ada peralihan jadi perlu di dikaji apakah harus tambah iklan atau beralih ke online,” kata Ridho.

Sumber : kompas.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: