Isu Lemahnya Daya Beli Jadi Perhatian Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti isu lemahnya daya beli dalam perkembangan ekonomi terkini. Kegelisahan Sri Mulyani terhadap isu tersebut juga dibahas dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Pertama, persepsi yang berkembang terjadi atau adanya penurunan daya beli menjadi perhatian pemerintah. Dalam pembahasan KSSK apa memang persepsi atau sifatnya,” kata Sri Mulyani dalam Jumpa Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Pusat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (31/10/2017).

Sri Mulyani menjelaskan penerimaan negara khususnya dalam pajak pertambahan nilai (PPN) tumbuh cukup positif bahkan mencapai di atas 10%. Angka ini menggambarkan masih cukup baiknya tingkat konsumsi masyarakat masih cukup bergeliat.

“Penerimaan negara PPN aktivitas sektor ekonomi mengalami penerimaan yang positif dan cukup kuat. Growth double digit menggambarkan aktivitas ekonomi yang mendasari pembayaran pajak. Ini kemudian buat kami melakukan penelitian mengenai sumber disebut persepsi mengenai masalah daya beli,” tutur Sri Mulyani.

Data konsumsi rumah tangga, khususnya konsumsi masyarakat yang kurang mampu tumbuh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), APBN dan APBD dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendongkrak perekonomian.

“Data household consumption dibagi menjadi 10 kelompok pendapatan masih tetap menunjukkan untuk kelompok 3 terbawah berarti 30% masyarakat yang income-nya paling rendah growth konsumsi tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu,” kata Sri Mulyani.

Selanjutnya, tingkat konsumsi kelas menengah juga masih terjaga positif, bahkan tumbuh dibandingkan tahun lalu meskipun lebih rendah yaitu dari 8% menjadi 5-6%.

“Kami sebut sebagai risiko jangan sampai persepsi menjadi terjadi. Oleh karena itu, kami terus akan berikan informasi kepada masyarakat mengenai masalah daya beli dan pertumbuhan konsumsi akan report laporkan ke masyarakat,” ucap Sri Mulyani.

Mengenai peralihan pola belanja dari toko ritel ke toko online, kata Sri Mulyani, masih perlu dikaji bersama. Jika terjadi peralihan semestinya tidak membuat konsumsi berkurang, melainkan pindah medium.

“Kalau pergeseran bukan penurunan dari A menjadi B, tidak A menjadi minus A,” tutur Sri Mulyani.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: