Meski Ritel Menurun, Penjualan Barang Bebas Pajak Justru Melonjak

Pengunjung saat mengantre untuk membeli pakaian diskon di Lotus Department Store, Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (25/10/2017). Menurut informasi yang diterima dari karyawan, gerai Lotus di seluruh Indonesia akan ditutup pada 31 Oktober 2017.

Kendati sejumlah toko ritel di Indonesia mulai tutup, namun hal tersebut tidak serta merta membuat kinerja penjualan barang bebas pajak atau tax free shopping (TFS) di Tanah Air mengalami penurunan.

Bahkan, data Global Blue justru menunjukkan adanya lonjakan yang cukup signifikan pada September 2017 lalu.

Sejauh ini, sudah ada beberapa perusahaan yang telah menutup toko mereka, seperti Matahari yang menutup gerainya di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M, serta Lotus Department Store yang baru saja menutup gerainya di gedung Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat.

Bahkan sebelumnya, PT Modern Internasional, operator toko swalayan 7-Eleven beberapa waktu lalu telah menutup seluruh operasi toko mereka di Indonesia.

Sejatinya, tertekannya kondisi ritel Indonesia sudah dimulai sejak semester kedua tahun 2016. Tak hanya disebabkan menurunnya daya beli atau spending power, pengamat ritel Andreas Kartawinata menyebut, penurunan terjadi akibat persaingan antar peritel.

“Banyak gerai-gerai yang tutup terutama fashion. Sebut saja satu di antaranya Debenhams di Kemang Village,” kata Andreas kepada KompasProperti, Rabu (12/7/2017).

Merujuk laporan Global Retail Development Index 2017 yang dirilis AT Kearney, Indonesia kini berada di peringkat ke delapan, jauh di bawah Malaysia dengan poin 55,9.

Posisi Indonesia merosot tiga level dibanding capaian tahun lalu yang masuk dalam lima teratas dunia.

Meski merosot, Global Blue mencatat kinerja penjualan barang TFS cukup baik. Bahkan, pertumbuhan penjualan di Indonesia mencapai 12 persen. Pertumbuhan ini terjadi akibat bauran transaksi dan pertumbuhan rata-rata yang sehat.

Namun demikian, pertumbuhan transaksi TFS Indonesia masih jauh di bawah negara-negara Asia lainnya. Sebut saja China yang pertumbuhannya mencapai 62 persen, dan Malaysia yang mencapai 42 persen.

Persentase pertumbuhan Indonesia juga masih di bawah Korea Selatan yang mencapai 21 persen dan Hong Kong 16 persen. Negara yang pertumbuhannya sama seperti Indonesia yaitu Taiwan.

“September menutup kuartal III dengan capaian yang sukses di Asia. Dengan Globe Shoppers dari China, Indonesia dan Hongkong secara khusus mendorong pertumbuhan transaksi bernilai tinggi terutama terhadap sektor mewah yang terus tampil kuat,” demikian keterangan Global Blue seperti dikutip KompasProperti, Rabu (1/11/2017).

Secara umum, capaian penjualan barang TFS di Asia mengalami pertumbuhan 39 persen pada September 2017, bila dibandingkan tahun lalu.

Data yang disampaikan Global Blue ini senada dengan gambaran yang dipaparkan AT Kerney, sebelumnya pada tahun 2016 penjualan ritel internasional di Asia cukup sepi.

Akan tetapi setahun kemudian kondisi membaik bila dibandingkan pasar TFS di Eropa yang terus mengalami penurunan hingga 10 persen bila dibandingkan tahun lalu.

Penguatan mata uang Euro dan penurunan kunjungan turis ke Eropa, diduga menjadi salah faktor utama penurunan ini.

“Penurunan ini memberikan dampak terhadap seluruh negara di Eropa, bahkan Jerman terus merasakan dampak tersebut seiring berkurangnya jumlah kunjungan,” tulis Global Blue.

Sumber : kompas.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: