Penjualan Unilever Tahun Ini Melambat, Karena Daya Beli Lesu?

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2017, penjualan atau net sales PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tercatat tumbuh 3,7% dibanding tahun sebelumnya (year on year). Namun jika dibanding dengan persentase pertumbuhan di tahun 2016, angka ini terhitung jauh berkurang.

Pada periode yang sama tahun 2016, perseroan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 9,25% dari tahun sebelumnya. Artinya, pertumbuhan penjualan tahun ini lebih lambat ketimbang tahun 2016.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Tevilyan Yudhistira Rusli mengatakan, hal ini terjadi oleh karena imbas perlambatan konsumsi rumah tangga Indonesia yang pada semester 1 tahun ini tercatat lebih lambat dibanding semester 1 tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, konsumsi rumah tangga sepanjang kuartal II 2017 tumbuh sebesar 4,95%, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2016 yang mampu mencapai 5,07%.

“Kalau dilihat memang ada beberapa sektor yang naik dan turun untuk konsumsi rumah tangga Indonesia. Information dan comunication memang naik dari 8% jadi 10%. Tapi yang mengena ini ke industri ritel. Seperti manufaktur industri turun 1% year on year growthnya. Dan juga di food juga flat atau merangkak. Jadi walaupun GDP kita 5%, tapi tidak mengena di semua sektor,” katanya dalam public expose di Grha Unilever, Tangerang, Rabu (1/11/2017).

Tren ini pun berimbas ke pertumbuhan penjualan dari produk-produk Unilever sepanjang 9 bulan pertama tahun ini yang melambat dibanding 9 bulan pertama tahun lalu dibanding tahun sebelumnya. Penjualan produk home and personal care Unilever hanya berhasil naik tipis 2,1% dari Rp 20,6 triliun ke Rp 21,1 triliun, sedangkan foods and refreshment naiknya sebesar 7,1% dari Rp 9,5 triliun ke Rp 10,1 triliun.

Pertumbuhan laba perseroan dibanding tahun sebelumnya juga tercatat melambat. Sembilan bulan pertama 2016, persereoan berhasil mengumpulkan laba hingga Rp 4,75 triliun atau tumbuh 13,64% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara tahun ini, pertumbuhan laba perseroan hanya meningkat 10,1% yakni dari Rp 4,75 triliun menjadi Rp 5,23 triliun.

“Sebetulnya kalau dilihat perkembangan bisnis tahun ini, memang ada dampak dari market yang slowing down,” jelas Sekretaris Perusahaan Sancoyo Antarikso.

“Jadi kalau dibandingkan tahun lalu, sepanjang tahun itu tumbuh hampir 10% atau 9,9%, sekarang cuma 3,7% di sembilan pertama. Dua tahun sebelumnya malah selalu double digit. Salah satu halnya secara overall marketnya memang sedang lemah,” tambahnya.

Dengan kondisi market yang seperti itu, Perseroan akan terus meningkatkan nilai-nilai produk yang dijual lebih dekat ke kebutuhan masyarakat. Beberapa brand-brand Unilever yang terbukti berhasil mendorong pertumbuhan bisnis yang positif di antaranya Lifebuoy, Pepsodent dan Bango.

“Tantangan terbesar dari market, di mana market food and consumer goods memang secara garis besar turun dibanding tahun sebelumnya. Makanya kami berusaha selalu dekat dengan konsumer. Sehingga kami bisa tahu kebutuhan kami dan bisa berikan produk dan jasa yang tepat buat mereka,” pungkasnya.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: