Inflasi pangan akhir tahun lebih tinggi

JAKARTA. Menjelang tutup tahun, Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti adanya potensi inflasi pada bahan pangan. Mengingat, tanda-tanda kenaikan harga pangan terutama gabah maupun beras sudah terlihat sejak Oktober 2017. Diperkirakan, harga bahan pokok tersebut akan terus meningkat sampai akhir tahun mengingat pasokan yang mulai berkurang seiring berakhirnya masa panen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) dan harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani Oktober lalu masing-masing naik 2,92% dan 0,35% dibanding bulan sebelumnya. Begitu juga dengan harga GKP dan GKG di tingkat penggilingan yang masing-masing naik 2,98% dan 0,55%. “Harga naik karena musim panen berkurang,” kata Suhariyanto, Rabu (1/11).

Sejalan dengan kenaikan harga gabah, maka harga beras di tingkat penggilingan juga meningkat. Kenaikan harga tertinggi terjadi pada jenis beras medium sebesar 2,03% dibanding bulan sebelumnya. Sementara harga beras premium dan kualitas rendah masing-masing naik 0,34% dan 1,86% dibanding September 2017.

Potensi kenaikan harga memasuki November, memang menjadi kenyataan. Berdasarkan pantauan harga pangan yang dilakukan Kementerian Perdagangan (Kemdag) per 2 November 2017, harga beras medium rata-rata nasional Rp 10.738 per kilogram (kg), naik dari sehari sebelumnya Rp 10.735 per kg.

Sementara, berdasarkan pantauan Kementerian Pertanian (Kemtan), harga GKP dan GKG di sejumlah kabupaten terus meningkat secara beragam. Per 2 November 2017, harga GKP dan GKG di Kabupaten Lampung Rp 4.700 dan Rp 5.600 per kg, sebulan sebelumnya hanya Rp 4.000 dan Rp 4.800 per kg.

Lalu di Kabupaten Sukabumi naik Rp 100 menjadi Rp 4.700 per kg untuk GKP dan menjadi Rp 5.700 per kg untuk GKG. Di sentra gabah di Jawa Tengah seperti Kabupaten Sragen , harga juga naik dari Rp 4.700 menjadi Rp 4.950 per kg untuk GKP dan Rp 5.300 menjadi Rp 5.500 per kg GKG.

Wisnu Wardana, Ekonom Bank Danamon menganalisa, inflasi harga pangan pada dua bulan sebelum tutup tahun adalah hal yang wajar. Pada tahun-tahun yang lalu, harga pangan selalu mengalami inflasi pada November dan Desember. “Tren akhir tahun biasanya terjadi peningkatan permintaan,” kata Wisnu, Kamis (2/11).

Disisi lain, pasokan pangan memang berkurang. Mengingat, masa panen gabah sudah berakhir pada September. Oleh karena itu, Wisnu menilai, potensi inflasi bahan pangan pada akhir tahun tak perlu dilihat secara berlebihan. Yang penting pemerintah bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) memastikan kelancaran pasokan bahan pangan, sehingga inflasi tetap terkendali.

Wisnu menghitung, inflasi bahan pangan pada akhir tahun tak akan berpengaruh signifikan terhadap total inflasi tahunan pada 2017. Dengan inflasi year to date per Oktober 2017 sebesar 2,66%, maka tambahan inflasi November dan Desember tak akan menjadikan total inflasi tahunan 2017 di atas 4%.

“Inflasi tahunan masih akan di bawah 4%, perhitungan kami 3,65%-3,81%, masih sesuai target Bank Indonesia sebesar 4%,” jelas Wisnu.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: