Fenomena Global Rontoknya Industri Ritel

Anomali Industri sudah berlangsung selama 2,5 tahun terakhir

Jakarta. Saat ini, industri ritel di tanah air menghadapi dinamika yang cukup pelik. Satu per satu pelaku industri ritel di Indonesia mulai menghentikan operasional gerai ritel mereka.

Tercatat, sudah ada beberapa pelaku usaha ritel yang menutup gerai usahanya, mulai dari 7-Eleven, PT Matahari Department Store, menyusul Lotus Departement Store dan Debenhams akan dittutup oleh PT Mitra Adi Perkasa Tbk pada akhir 2017. Roy N Mandey, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha menyebutkan, kondisi ritel sekarang sedang mengalami fenomenal anomali.

Sebab dashboard ekonomi makro Indonesia saat ini masih cukup baik. Kondisi demikian sudah berlangsung selama 2,5 tahun terakhir.

Situasi ini pernah dialami para peritel pada saat krisis moneter tahun 1997-1998, penjualan merosot tajam akibat daya beli anjlok. Tapi kelesuan yang terjadi sekarang sedikit berbeda. “Ada perubahan pola konsumsi masyarakat, baik itu ke online maupun ke traveling,” aku Roy, Rabu (1/11).

Perubahan pola konsumsi ini ditandai maraknya bisnis daring atau e-commerce, meningkatknya kelas menengah atas yang pergi pelesiran baik tujuan domestik maupun mancanegara. Hal itu terindikasi dari ramai dan insentifnya setiap pameran wisata dan travel. Disisi lain, produktivitas masyarakat menengah ke bawah rendah, sehingga tidak memiliki daya yang baik.

Handaka Santosa, CEO Sogo Departement Store, mengamini ritel mengalami tantangan dengan perubahan pola konsumsi dan gaya hidup yang membuat kinerja ritel berat. “Namun hal ini justru harus membuat peritel mengubah strategi dalam tampilan gerai, peningkatan pelayanan dan efisiensi,” tuturnya.

Fenomena global

Sejatinya, maraknya penutupan toko ritel bukan saja menghantam Indonesia, tapi negara lain. Ini merupakan fenomena global. Di kawasan regional seperti di Singapura, tren angka penjualan d mal menurun.

Mengutip data Inside Retail Asia, angka penjualan ritel-ritel Singapura sudah melemah sejak tahun 2014. Dalam laporan 2015, angka penjualan ritel di kuartal II turun 1% Sedangkan di 2016, penurunan penjualan lebih besar lagi, yakni 6,5% ketimbang tahun sebelumnya.

Selain akibatnya aktivitas belanja online, kehadiran toko dan mal baru dipinggiran Singapura menyebabkan bisnis pusat perbelanjaan lama yang berada di pusat kota seperti Orchard Road mulai tertekan. Ini mirip pergeseran perilaku konsumen di Indonesia yang beralih ke minimarket ketimbang mal, dengan pertimbangan harga lebih murah dan akses dekat pemukiman.

Setali tiga uang dengan kondisi ritel di Hongkong. Sejumlah toko tutup akibat biaya sewa mahal dan operasional tinggi. Lainnya, terpaksa memperkecil area toko demi efisiensi. Beruntung, mereka masih mendapat kunjungan dari pada turis asing yang berbelanja. “Namun toko yang tutup di sini tidak sebanyak yang terjadi di Indonesia,” ungkap Tenia, WNI yang menetap di Hongkong kepada KONTAN, Rabu (1/11).

Cuma bisnis online di Hongkong belum sebesar di Indonesia. Ada sejumlah toko online tapi skalanya kecil. Di Indonesia ada Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Gopay dan lainnya. “Amazon belum sampai ke Hongkong, yang mengakses Alibaba juga masih sedikit,” beber Tenia.

Alhasil, toko-toko raksasa perlahan tumbang akibat digitalisasi. Tahun ini saja, di Amerika Serikat, sudah 1.430 toko milik Radio Shack tutup. Lalu, 808 outlet milik toko sepatu Payless, 288 outlet Kmart, 160 toko Crocs, 138 outlet JC Penny, 98 Sears, 68 Macy’s, 70 outlet CVS, 154 toko Walmart, 128 outlet Michael Kors yang gulung tikar.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: