Daya Beli Menengah Bawah Turun, Kesenjangan Melebar

Penurunan daya beli masyarakat kelas menengah bawah dinilai berpotensi menambah kemiskinan dan memperlebar jurang ketimpangan atau kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Apalagi, di sisi lain, daya beli kelompok masyarakat atas atau orang kaya justru cenderung meningkat. Guna memperbaiki daya beli kelompok menengah bawah pemerintah perlu menggalakkan proyek infrastruktur yang berorientasi padat karya.

Direktur Eksekutif CORE, Hendri Saparini, mengemukakan lembaganya sudah mewanti-wanti pemerintah sejak akhir 2016 agar mewaspadai penurunan daya beli masyarakat. Sebab, konsumsi rumah tangga selama ini merupakan kontributor utama produk domestik bruto (PDB).

“Semua bilang tidak ada perlambatan konsumsi rumah tangga. Kalau dari kita CORE memang selalu bilang faktanya ada. Terus nyambung datanya makro dan mikro bahwa ada perlambatan konsumsi rumah tangga,” kata Hendri, saat dihubungi, Jumat (3/11).

Dia menjelaskan konsumsi rumah tangga memang masih jadi andalan pertumbuhan ekonomi dengan skor 59 persen. Tetapi, melihat struktur konsumsi rumah tangga maka memungkinkan pertumbuhan ekonomi hanya didorong kelompok atas sementara kelompok bawah kontribusinya hanya 2–3 persen.

“Kalau strukturnya seperti itu, ketimpangan akan tinggi. Penurunan daya beli masyarakat menengah bawah juga akan menambah kemiskinan,” papar Hendri.

Menurut Hendri, di level masyarakat bawah seperti pekerja perkebunan, penurunan daya beli sudah jelas karena harga komoditas primer tidak naik. Penyebab lain karena kenaikan tarif listrik, terutama peralihan dari 24 juta rumah tangga menjadi hanya empat juta rumah tangga yang bersubsidi.

“Itu kan pasti menahan konsumsi mereka. Untuk gas juga naik karena pencabutan subsidi. Jadi, sebenarnya sudah sejak 2016 tanda-tanda daya beli itu bakal anjlok,” ungkap dia.

Hendri menegaskan pemerintah tidak perlu lagi membantah atas data-data yang disajikan berbagai lembaga terkait daya beli. “Tinggal tentukan langkah apa yang perlu kita lakukan untuk mengantisipasinya,” kata dia.

Dia menambahkan, CORE sudah sampaikan bahwa anggaran infrastruktur harus disisihkan untuk berbagai proyek yang padat karya. Dan, hal ini harus dilakukan segera. “Kemudian, bagaimana mendorong belanja kelompok bawah. Apa pun harus dilakukan sehingga multiplier effect terhadap industri akan terjadi,” jelas Hendri.

Penjualan Melambat

Sementara itu, hasil riset The Nielsen Company Indonesia (Nielsen) terbaru menunjukkan tak cuma perdagangan ritel yang terpukul, penjualan barang konsumsi juga melambat.

Hingga September 2017, omzet Fast Moving Consumer Good (FMCG) hanya tumbuh 2,7 persen. Angka itu melanjutkan tren perlambatan penjualan FMCG yang tahun lalu tumbuh 7,7 persen atau di bawah rata-rata pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 11 persen selama lebih dari 10 tahun.

FCMG adalah berbagai produk yang dapat terjual secara cepat dengan harga yang relatif murah, dan biasanya merupakan kebutuhan sehari-hari.

Nielsen menjelaskan perlambatan penjualan itu disebabkan penurunan daya beli masyarakat khususnya di kelas menengah ke bawah.

Penghasilan riil masyarakat turun karena tidak ada kenaikan gaji atau kenaikan yang tak signifikan, juga berkurangnya tambahan pemasukan dari sumber lainnya. Di sisi lain, biaya hidup dan pengeluaran meningkat seperti tarif listrik, biaya makanan, dan belanja sekolah.

Masyarakat pun berhemat dengan mengerem belanja. Akibatnya, penjualan beberapa produk konsumsi hingga kuartal III tahun ini menurun. Contohnya, volume penjualan mi instan yang turun 5,5 persen dan secara nilai turun 2,7 persen. Volume penjualan susu bubuk juga turun 0,2 persen dan secara nilai turun 1,5 persen.

Berbeda dengan kelompok menengah ke bawah, riset Nielsen menunjukkan terjadi pertumbuhan konsumsi di kelas masyarakat atas sekitar 34 persen. Masyarakat kelas atas masih mengeluarkan pendapatan untuk biaya lifestyle, namun tetap wait and see.

Nielsen menyimpulkan perlambatan penjualan barang konsumsi itu tidak dipengaruhi oleh tren belanja secara daring. Alasannya, penjualan FMCG melalui lapak e-Commerce tahun lalu sebesar 1,5 triliun rupiah atau 0,3 persen dari total nilai penjualan barang konsumsi.

Nilai tersebut tidak sebanding dengan penurunan penjualan FMCG yang mencapai 37 triliun rupiah. Angka itu diperoleh berdasarkan selisih antara rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan FMCG sebesar 11 persen atau senilai 49 triliun rupiah, sedangkan realisasi selama Januari–September 2017 hanya tumbuh 2,7 persen atau senilai 12 triliun rupiah.

Sumber : koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: