Daya Beli Masyarakat yang Masih Lesu, Begini Penjelasan BI

https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 16 320 1815465 daya-beli-masyarakat-yang-masih-lesu-begini-penjelasan-bi-kC2AZB60mT.jpg

Bank Indonesia (BI) masih mencermati kondisi daya beli masyarakat yang masih belum pulih. Daya beli masyarakat belum membaik meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tidak ada kenaikan harga yang tinggi selama bulan Oktober 2017.

Pada Oktober 2017 tercatat inflasi berada di angka rendah yakni 0,01%. Sedangkan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2017 tumbuh melambat menjadi 4,93% dibandingkan kuartal II-2017 sebesar 4,95% (q to q).

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pada dasarnya ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi daya beli masyarakat. Misalnya pemulihan ekonomi hingga pendapatan.

“Tapi daya beli konsumsi itu akan sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi. Pendapatan kan dihasilkan dari situ. Konsumsi, memang ada beberapa indikator. Sebetulnya pemulihan ekonomi berlanjut, perbaikan konsumsi rumah tangga berlanjut. Cuma memang belum merata,” ujar Perry di Kantor BI, Kamis (16/11/2017).

Perry menjelaskan, sejatinya perbaikan ekonomi sudah terlihat dari penjualan motor pada kuartal III yang tumbuh 18,1% serta pertumbuhan penjualan mobil yang mencapai 7,2%. Penjualan ritel juga dikatakan Perry menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,6%.

“Kalau lihat kelompoknya ritel sale yang bagus adalah kelompok makanan 10% dan pakaian 10%. Yang turun itu adalah ritel untuk komunikasi, peralatan rumah tangga. Jadi kelihatan konsumsi yang lebih kepada bahan kebutuhan pokok masih tumbuh bagus,” jelasnya.

Perry menyatakan, secara umum memang pendapatan pada kelompok menengah ke bawah belum mengalami kenaikan, berbeda halnya dengan pendapatan menengah ke atas yang kenaikannya cukup tinggi. Hal ini dikatakannya karena penurunan harga komoditas yang terjadi tahun 2013-2015.

“Maka tingkat pendapatan di daerah yang terkena penurunan ekspor di situlah daerah yang kelihatan kenaikan pendapatannya masih rendah khususnya Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya.

“Remitensi TKI sejak 2015-2016 menurun drastis, baik karena penurunan harga komoditas juga pada kebijakan moratorium. Di 2015 pertumbuhan remitensi bisa mencapai di atas 20%, kuartal IV 2016 menjadi 12%,” pungkasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: