Gara-Gara Pajak Tak Capai Target, Pemerintah Jadi Tekor Bangun Infrastruktur

https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 23 320 1819416 gara-gara-pajak-tak-capai-target-pemerintah-jadi-tekor-bangun-infrastruktur-d4LdmfCWax.jpg

Proyek infrastruktur yang digarap oleh pemerintah kebanyakan dinilai berorientasi jangka panjang sehingga manfaatnya tidak bisa dirasakan segera, membuat pengeluaran dan pendapatan negara jadi jomplang.

“Yang jadi soal, sekarang 3 tahun berjalan kan semua infrastruktur yang dikerjakan infrastruktur jangka panjang semua, terutama jalan raya, tol dan sebagainya,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati ketika ditemui di Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Dia menilai, pemerintah akan kesulitan dalam merefinancing utang-utangnya. Oleh karenanya, untuk jangka pendek pembangunan tersebut akan berdampak kurang baik.

“Nah sehingga refinancing-nya tentu bermasalah dalam jangka pendek sehingga kalau kita lihat selama 2 tahun terakhir baik 2016 maupun 2017 defisit keseimbangan primer kita justru meningkat,” jelasnya.

Enny menjelaskan, defisit keseimbangan primer ini merupakan kemampuan pemerintah dalam pengeluaran dan pendapatan. Pendapatan yang diperoleh pemerintah jauh lebih kecil daripada pengeluarannya. Hal itu disebabkan pengeluaran yang dilakukan belum bisa menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek.

Kondisi tersebut, dipengaruhi oleh sikap pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang menurut Enny mayoritas membutuhkan waktu untuk memberikan efek positif, alias bukan infrastruktur yang dalam jangka pendek bisa langsung memberikan manfaat.

“Sehingga penambahan utang yang dilakukan pemerintah tidak mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan penerimaan, pemerintah sehingga secara cash flow, secara tata kelola keuangan pemerintah tekor,” katanya.

“Jadi investasi terus, pengeluaran terus berlangsung tapi pendapatannya justru menurun. Ini yang disebut salah satunya menjadi resiko fiskal yang membahayakan kesinambungan fiskal dari pemerintah,” tambah dia.

Ditambah lagi, Indonesia dianggapnya mengalami defisit keseimbangan primer yang artinya beban bunga dan cicilan utang negara sudah cukup besar. Di sisi lain pemerintah ingin mengebut pembangunan infrastruktur sementara penerimaannya tidak sebanding.

“Karena penerimaan pajak kita turun maka konsekuensinya untuk penuhi bunga dan cicilan ya kita sebagaian ambil dari utang yang baru. Nah, sehingga berpengaruh juga kepada produktivitas dari utang-utang yang kita tarik. Disamping itu ditambah lagi proyek-proyek yang baru yang dibiayai utang itu tidak bisa refinancing dalam jangka pendek,” tandasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: