Industri Hasil Tembakau Tertekan, Jutaan Pekerja Kena PHK

Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman – Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) mencatat, 9 tahun terakhir sedikitnya 3.129 pabrik rokok gulung tikar dan jutaan pekerja menjadi korban PHK. Hal tersebut disebabkan belum adanya kehadiran pemerintah melindungi industri dan pekerja Industri Hasil Tembakau (IHT).

Setidaknya problem inilah yang dibicarakan dalam Seminar Nasional FSP RTMM-SPSI di Hotel Gallery Prawirotaman, Jumat (24/11/2017) kemarin. Selama satu hari, stakeholder yang terkait di industri tersebut duduk satu meja guna mengurai permasalahan yang mendera khususnya bagi kaum pekerja.

Ketua Umum FSP RTMM-SPSI, Sudarto kepada wartawan usai seminar Sabtu (25/11/2017) mengatakan tertekannya IHT dipicu isu dampak merokok bagi kesehatan baik di tingkat global melalui Framework Convention on Tobacco WHO, Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau dan regulasi PP 19/2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan dan Perda yang mengatur Kawasan Tanpa Asap Rokok. Isu-isu tersebut menurut dia diperluas dampaknya dengan adanya kebijakan yang tidak seimbang dalam perlindungan pemerintah terhadap IHT dan dituding menjadi kebijakan anti tembakau.

“Kondisi ini kami nilai akibat pemerintah belum 100 persen hadir melindungi industri dan pekerja IHT, padahal sumbangan IHT terhadap negara cukup besar, contoh nyatanya cukai yang tiap tahun dinaikkan tentu membuat pendapatan negara naik. Data yang kami miliki tahun 2016 lalu tercatat penerimaan negara dari cukai rokok sekitar Rp130 triliun,” ungkapnya.

Ketua Bidang Hukum FSP RTMM-SPSI, Andrie menambahkan dari data yang dimiliki, dalam 9 tahun terakhir sedikitnya 3.129 pabrik rokok bangkrut. Fakta tersebut berdampak pada para pekerja yang mau tak mau harus rela dirumahkan di mana 80 persennya adalah perempuan dengan pendidikan rendah.

“Data real saja, misalnya anggota serikat kita, dari 600 ribu lebih anggota tiap tahun turun sekitar 30 ribu. Selama dua tahun ini kami telah melakukan advokasi dengan mendatangi Komisi XI DPR RI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan namun terkait kebijakannya belum juga diputuskan. Prinsipnya kami mengadvokasi untuk menjaga pekerja dan pengusaha, karena pekerja butuh pengusaha,” ungkapnya.

Sementara Agus Sarjono, Ketua Perhimpunan Pengusaha Rokok Kudus (PPRK) mengungkap sejak tahun 2005 tercatat 1300 industri rokok besar, menengah, dan kecil yang ada di wilayah Indonesia. “Namun sekarang tinggal 89 industri, yang jadi korban industri kecil karena cukai rokok terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, hanya kelas besar dan menengah masih bertahan,” terangnya.

Berdasar Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, IHT dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu Kelompok Industri Hulu berupa industri pengeringan dan pengolahan tembakau. Kelompok Industri Antara berupa industri bumbu rokok dan kelengkapannya, serta Kelompok Industri Hilir berupa industri rokok kretek, rokok putih dan cerutu atau klobot.

Sumber : krjogja.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: