Harga Minyak Naik, Menkeu Yakin Keuangan Pertamina Aman

20151007-Ilustrasi Tambang Minyak

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyatakan, kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) saat ini tidak mengguncang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun neraca keuangan PT Pertamina (Persero). KeuanganPertamina tetap aman meski harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tidak naik.

“Kalau ICP naik dari asumsi US$ 48 dan sekarang sudah US$ 50 per barel, berarti sudah ada kenaikan US$ 2 per barel. Maka APBN kita untung Rp 2,2 triliun, di mana setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel, untung Rp 1,1 triliun,” kata dia saat Dialog Perkembangan Makro Fiskal bersama Ekonom di kantornya, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Sri Mulyani menjelaskan, Pertamina mendapatkan keuntungan dari penurunan harga minyak dunia dan ICP di 2016. Sementara harga BBM tetap, bahkan tidak ikut mengalami penurunan. Sehingga keuntungan tersebut digunakan sebagai cadangan untuk 2017.

“Rasanya dari neraca Pertamina cukup baik. Tapi kalau mereka harus ekspansi atau belanja modal cukup banyak, di situ mungkin (Pertamina) mendapat tekanan, butuh support lebih. Tapi kalau hanya current spending (operasional sehari-hari), it’s gonna be manageable,” ujar dia.

Sementara untuk setiap pelemahan kurs rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS, maka APBN akan untung Rp 2,1 triliun. “Jadi kenaikan (ICP) tidak menimbulkan persoalan sustainability atau kolaps dari neraca (keuangan) Pertamina dan APBN,” tandas Sri Mulyani.

SKK Migas Harap Kenaikan Harga Minyak Gairahkan Investasi Migas

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menginginkan investasi pada industri hulu migas kembali bergairah, saat harga minyak dunia mulai merangkak naik.

Wakil Kepala SKK Migas Sukendar mengatakan, ketika harga minyak dunia sudah menyentuh level US$ 59 sampai US$‎ 60 per barel, maka industri hulu atau pencariaan migas sudah mendapat keuntungan yang lumayan. ‎

“J‎adi kalau misalnya US$ 60, itu seharusnya sudah provide reasonable return untuk investor,” kata Sukendar, di Kantor SKK Migas Jakarta, Jumat 5 Januari 2018.

Menurut dia, seharusnya dengan kenaikan harga minyak belakangan ini, investor kembali bergairah menanamkan modalnya pada kegiatan pencarian migas. ‎

“T‎api kalau harga minyak di level US$ 60, ini menurut saya, bisa dapat (keuntungan) 20 persen lebih dikit. Jadi mestinya cukup-lah, 18, 22, 23, itu mestinya sudah atraktif bagi si perusahaan minyak,” ujar Sukendar.

Dampak penurunan harga minyak masih dirasakan sampai 2017. Hal ini ditunjukan dengan tidak tercapainya target investasi hulu migas. ‎

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan, realisasi investasi 2017 sebesar US$9,33 miliar, jauh lebih rendah dari kesepakatan dalam rencana kerja anggaran sebesar US$12,29 miliar.

Dari jumlah tersebut, investasi untuk blok eksplorasi hanya sebesar US$180 juta, sebesar US$9,15 miliar untuk blok eksploitasi.

“‎Investasi eksplorasi masih kecil kedepan perlu ditingkatkan, tapi butuh dukungan berbagai pihak,”tutup Amien.‎ ‎

Sumber : liputan6.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: