Optimisme mewarnai berbagai pidato dan sambutan pejabat pemerintah akan perkembangan ekonomi Indonesia tahun ini. Walau laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya 5,4 persen, kondisi ekonomi tahun ini diyakini lebih ekspansif. Pemerintah akan membelanjakan dana lebih banyak dibanding tahun sebelumnya dan laju pertumbuhan kredit perbankan 2018 lebih tinggi dibanding 2017.
Sejumlah event tahun ini diharapkan ikut menambah likuiditas di masyarakat. Selain Asian Games XVIII, 18 Agustus hingga 2 September 2018, ada sidang tahunan IMF dan Bank Dunia di Denpasar, dan pilkada serentak di 171 daerah pemilihan. Pilkada diharapkan mengucurkan dana sekitar Rp 50 triliun ke masyarakat untuk memenangkan pasangan calon tertentu. Meski ada fakta lain bahwa selama pilkada, ada triliunan rupiah dana dari daerah mengalir ke pusat untuk membeli kursi partai pengungsi.
Ekspansi ekonomi, terutama, diharapkan datang dari belanja pemerintah, pusat dan daerah, serta kredit perbankan. Pada tahun anggaran 2017, belanja pemerintah mencapai Rp 1.986 triliun, atau 93 persen dari target, tetapi kurang berkualitas karena kucuran terbesar terjadi di kuartal keempat, bahkan pada bulan Desember. Belanja pegawai pada APBN 2017 sebesar 91 persen dari target seiring dengan efisiensi yang dilaksanakan. Sedang belanja barang mencapai 95 persen dari target. Yang sedikit lebih rendah adalah belanja modal, 89 persen.
Dana desa Rp 60 trilun tidak mampu menggerakkan ekonomi secara signifikan karena sebagian besar dikucurkan Desember 2017. Meski realisasi anggaran dana desa di atas 90 persen, banyak penggunaan yang tidak terarah. Tahun ini, dengan nilai yang sama, dana desa diharapkan menggerakkan ekonomi perdesaan. Proyek padat karya dengan imbalan dana tunai diharapkan menambah daya beli masyarakat desa.
Dengan anggaran belanja tahun 2018 sebesar Rp 2.220,7 triliun, ekonomi mestinya bergerak lebih cepat. Penerimaan pajak yang ditargetkan meningkat hingga 20 persen mesti diimbangi belanja yang lebih ekspansif dan teratur. Ekspansif artinya realisasi belanja APBN tahun ini tidak kurang dari 95 persen dari target dan dana mulai dikucurkan sejak awal tahun. Dana desa, misalnya, akan efektif jika mulai disalurkan Januari.
Di samping belanja pemerintah, perbankan nasional diharapkan lebih berani meningkatkan ekspansi kredit. Dalam dua tahun terakhir, laju pertumbuhan kredit kurang dari 10 persen. Setelah sempat bertumbuh di atas 20 persen selama 2002-2013, pada tahun 2013, kredit perbankan melambat menjadi 10,1 persen pada tahun 2014 dan 11,6 persen tahun 2015. Namun, pada tahun 2016, kredit hanya bertambah 9 persen dan tahun 2017 turun lagi ke 8 persen.
Pemerintah mengharapkan, tahun ini, kredit perbankan bisa melaju di atas 10 persen dan pihak Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju ekspansi kredit tahun ini 10-12 persen. Namun, kalangan bankir agak kurang yakin laju ekspansi kredit kembali ke level dua digit. Mereka tahu persis, penentu laju ekspansif kredit bukanlah pihak bank, melainkan pelaku bisnis. Jika kegiatan usaha bergairah, investasi meningkat, dan permintaan masyarakat akan barang dan jasa menguat, kredit akan tumbuh.
Kalangan bankir menunjuk fakta undisbursement loan atau kredit belum terpakai yang diparkir di perbankan yang mencapai Rp 1.400 triliun pada September 2017. Nilai unused loan itu mencapai 31 persen dari posisi kredit perbankan pada periode yang sama sebesar Rp 4.561 triliun. Kalangan bankir dari bank BUKU IV mengakui, lebih dari 20 persen kredit yang sudah ada akad kreditnya belum dicairkan oleh pihak debitur. Kondisi ini tak pelak lagi disebabkan oleh ekonomi secara umum yang masih lesu.
Dengan kinerja perbankan yang semakin baik, kita berharap, tahun ini, kredit bisa tumbuh di atas 10 persen dan undisbursement loan bisa turun tajam. Dana unused loan tak bisa nol sama sekali karena pencairan dana biasanya mengikuti irama pembangunan. Namun, undisbursement loan yang mencapai 30 persen dari posisi kredit mengisyaratkan excess capacity di dunia usaha akibat melemahnya permintaan.
Membaiknya kinerja perbankan bisa dilihat dari kenaikan laba bersih 115 bank umum tahun 2017 yang diperkirakan sekitar 16,5 persen. Sejumlah bank publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia malah membukukan pertumbuhan laba bersih hingga 30 persen. Non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah perbankan yang sebelumnya dikhawatirkan membengkak, justru sukses diturunkan. NPL bruto perbankan tahun 2017 sekitar 2,8 persen, jauh dari batas maksimum 5 persen. Dengan penggunaan fintech,perbankan semakin efisien seperti terlihat dari BOPO tahun 2017 sebesar 78,3 persen, turun dari 81,3 persen tahun 2016.
Agar kredit bank bisa bertumbuh di atas 10 persen tahun ini, pertama, iklim investasi harus terus diperbaiki untuk menarik minat investor. Tanpa investasi baru, tidak ada kegiatan produksi dan lapangan kerja baru.
Kedua, tarikan pajak oleh pemerintah perlu diikuti oleh belanja yang lebih cepat. Tahun ini, belanja APBN perlu dikucurkan dari Januari dan nilai kucuran sebaiknya di atas 95 persen dari target.
Ketiga, ekspor harus dipacu dan pemerintah memberikan sejumlah insentif.
Keempat, agar kredit bisa diserap, bunga pinjaman harus ditekan di bahan 10 persen. Saatnya KPR 7-8 persen setahun.
Jika pada tahun ini fiskal dan kredit ekspansif, laju pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5,4 persen.
Sumber : beritasatu.com
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Ekonomi

Tinggalkan komentar