Subsidi BBM Bisa Bengkak Rp10 Triliun di Tahun Ini

Subsidi BBM Bisa Bengkak Rp10 Triliun di Tahun Ini

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengestimasi, anggaran subsidi energi pemerintah akan membengkak sekitar Rp10 triliun untuk menanggung beban harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tahun ini.

Ekonom Indef Eko Listiyanto mengatakan, hal ini karena dampak dari kenaikan harga minyak dunia yang terjadi sejak akhir tahun lalu, sehingga akan mengerek harga minyak yang dipasarkan ke masyarakat.

“Kami asumsikan naik Rp10 triliun itu bisa,” ucap Eko saat konferensi pers di kantornya, Kamis (25/1).

Kendati membengkak, namun Eko melihat, kebijakan agar pemerintah tetap memberikan subsidi kepada masyarakat dirasa tepat. Tahun ini, pemerintah menganggarkan subsidi energi, termasuk untuk BBM sebesar Rp95,4 triliun.

Pertama, dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kenaikan anggaran subsidi tak serta merta memberatkan APBN. Sebab, pemerintah tetap punya penetralisir dari penerimaan pajak dari sektor energi ini.

“Tapi dari sisi lain penerimaan pajak itu naik karena harga BBM kan ada pajak dan ekspor jualan migasnya juga akan naik,” katanya.

Sehingga, dengan adanya tambahan penerimaan, Eko meyakini, beban besaran subsidi energi nanti tak sampai menambah lebar defisit APBN.

Kedua, kebijakan ini dianggap lebih mudah untuk dilakukan dengan cepat, ketimbang membiarkan kenaikan harga minyak tanpa solusi dalam waktu yang panjang.

Pasalnya, bila dibiarkan dampak dari kenaikan harga minyak dunia bisa menjalar ke indikator lain, mulai dari meningkatnya inflasi, tergerusnya daya beli masyarakat, beban keuangan PT Pertamina (Persero) yang selama ini turut menanggung selisih beban harga minyak, hingga sektor keuangan.

Sebelumnya, Ekonom Senior Standard Chartered Bank untuk Indonesia Aldian Taloputra mengestimasi, kenaikan harga minyak dunia akan membuat subsidi energi bengkak sekitar Rp30 triliun.
“Kami memprediksi beban subsidi akan meningkat sejumlah Rp30 triliun dengan asumsi bahwa harga minyak bertahan pada tingkat atas seperti ini dan biaya subsidi sepenuhnya diserap oleh anggaran,” kata Aldian awal pekan ini.

Namun, ia bilang, agar tak terlalu memberatkan beban anggaran subsidi, pemerintah sebaiknya menaikkan harga BBM non subsidi, seperti Pertamax dan Pertalite.

Berdasarkan harga minyak mentah di pasar global, harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$70,53 per barel pada akhir perdagangan kemarin. Sedangkan harga minyak mentah AS West Texas Intermediaries (WTI) yang berada di kisaran US$65,8 per barel.

Sumber : cnnindonesia.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: