Properti Non-Residensial Masih Lesu, REI Ungkap Penyebabnya

https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 31 470 1852836 properti-non-residensial-masih-lesu-rei-ungkap-penyebabnya-Rm4yRZo9ct.jpg

Sektor properti Indonesia non-residensial masih belum juga menunjukan rebound sejak tahun 2013 lalu. Bahkan, sektor properti non residensial disebut sebut terus mengalami penurunan hingga diangka 70%.

“Saya tidak mempunyai data yang terpisah antara resedential , tapi saya mendeteksi ada 20 pengembang yang yang kategorinya besar. Kalo dari 2013 akhir ke 2017 menurun menjadi 70%. Saya berharap bisa kembali menuju titik ini. Kalau ini bisa pulih maka bisa digambarkan jika industri properti sudah pulih karena ini angkanya 60% mewakili industri properti,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (DPP-REI) Soelaeman Soemawinata dalam acara Konferensi pers di Kantor DPP Pusat, Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Menurut Eman, belum bisa bangkitnya industri properti disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah faktor ekonomi global yang belum stabil dalam beberapa tahun belakangan.

“Untuk sektor si luar perumahan, saat ini kondisi non perumahan seperti perkantoran, perdagangan, banyak mengalami tantangan karena situasi ekonomi global yang penuh dengan tantangan,” ucapnya.

Dampak ekonomi global yang belum stabil membuat masyarakat juga menahan belanjanya. Bagi masyarakat menengah ke bawah lebih memilih untuk menahan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan untuk masyarakat berpenghasilan tinggi juga menahan uangnya karena melihat situasi yang tidak kondusif.

“Semua produksi ditahan karena market, penyewa retail banyak menahan diri. Itu yang kita deteksi selama ini di pasar sehingga problem itu tentu menjadi concern kita di asosiasi karena di situ peran dari rei atau para pengembang menciptakan lapangan kerja dan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Itu sangat penting,” jelasnya.

Hal tersebut akhirnya berdampak juga kepada jumlah pasokan properti non residensial. Alih-alih bertambah, sektor ini jutsru mengalami penurunan karena adanya penutupan gerai mall dan kantor yang disebabkan sepinya pengunjung dan tenant.

“Suplai dari perkantoran banyak yang masih belum direalisasikan ke pasar. Juga kawasan komersial saya kira banyak melihat jarang ada launching di area komersial seperti mal dan lain-lain,” jelasnya.

Kendala lainya adalah karena tingginya kredit dari perbankan. Bagaimana tidak saat ini BI Rate sudah berada di angka 4,25% sedangkan bunga bank berada ditangan 12-13%.

“Kendala lain saya kira itu sifatnya teknis, di antaranya mengenai tingginya kredit konsumsi dari perbankan. Saat ini bi rate sudah menuju 4,25% sedangkan bunga bank 12-13%. Sebenarnya untuk kredit konsumsi perumahan sudah ada di level di bawah 10%, sementara untuk MBR sebagian besar masih di atas 10%,” jelasnya.

Meski begitu lanjut Eman, sektor properti harus berterima kasih banyak pada sektor perumahan. Karena belakangan sektor perumahan menjadi penopang properti secara keseluruhan.

“Kalau perumahan memang karena adanya program sejuta rumah dari pemerintah,” jelasnya.

Sumber : okezone.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: