Pemerintah Diminta Batasi Impor Produk Turunan Baja

Industri baja dalam negeri khawatir dengan produk turunan baja yang akan membanjiri pasar dalam negeri menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018. Produk turunan baja yang masuk itu karena banderolnya yang terbilang murah ketimbang buatan lokal.

“Kan isunya itu pertama ada masalah, quality ada, ada impor-impor yang tidak bisa kita produksi, tadi disampaikan, di bagian tengah (midstream) bisa diproduksi tapi tetap impor, itu faktor cost-nya, karena lebih murah,” kata Head of Marketing PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Bimakarsa Wijaya saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Ia melanjutkan, produksi wire rod untuk paku, kawat, dan sejenisnya sebenarnya bisa diproduksi dalam negeri. Namun produk dari China lebih murah. Kemudian untuk impor barang konstruksi seperti beton lebih disukai karena lebih murah dan proses pengirimannya lebih cepat.

Permendag tersebut merupakan perubahan ketiga atas Permendag Nomor 82 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya. Adapun jumlah kebutuhan baja nasional saat ini meningkat pada 2016 sekitar 12,7 juta ton, sedangkan 2017 sekitar 13,4 juta ton.

“Porsinya sudah menurun ya, dulu itu kita impornya 55 persen, produksinya 45 persen. Kan sekarang udah terbalik nih, 2016-2017 impornya sudah menurun ya, jadi 45 persen dan produksinya 55 persen,” kata dia.

Sementara itu, ia berharap pemerintah tidak membuka keran impor baja melebihi 50 persen dari kebutuhkan nasional. Ia mengatakan, jika pertumbuhan industri baja sekitar 6-7 persen maka total kebutuhan baja nasional tahun ini sekitar 14 juta ton.

Selain itu, ia berharap  pemerintah bisa menekan impor baja dengan membuat kebijakan-kebijakan terkait perizinan impor. Mislanya secarak teknik, produk-produk impor harus ada standar nasional Indonesia (SNi) supaya tidak sembarang produk impor bisa masuk ke Indonesia.

“Jadi orang harus SNI dulu, kemudian kalau di sektor seperti energi atau infrastruktur ada TKDN supaya impornya bisa ditekan,” ucapnya.

Kendati demikian pihaknya tetap mendorong produktivitas industri baja dengan membuat program investasi. “Kalau dari kami, kan sudah punya program investasi. Kan milestone-nya dibagi tiga, masalah-masalahnya diberesin dulu, kalau sudah investasinya di galakkan,” ujarnya.

Sumber : inews.id

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: