Waspadai Impor Daging Beku India

Rencana pemerintah mengimpor daging kerbau beku asal India sepertinya sudah bulat. Setelah mengirimkan tim untuk mengaudit Rumah Potong Hewan (RPH) di India beberapa waktu lalu, pemerintah menetapkan RPH yang bakal memasok daging beku ke Indonesia.

Banjir kritik bakal dialamatkan kepada pemerintah atas rencana nekat untuk impor daging asal India. Pasalnya, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau World Organizatuon for Animal Health (OIE) menyebutkan bahwa Negeri Sungai Gangga tersebut belum terbebas dari Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang lazim menyerang hewan ternak.

Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan importasi daging dari India dilakukan di zona-zona yang dinyatakan bebas PMK. “Kepastian ini diperoleh dari hasil pengecekan langsung ke RPH di India yang dinyatakan bebas dari PMK dan memenuhi prosedur halal yang dibutuhkan di Indonesia,” ujarnya, Kamis (23/6). Dia yakin masuknya daging impor India ke Indonesia, maka harga daging sapi dapat ditekan menjadi Rp 80.000 per kg.

Banun Harpini, Kepala Badan Karantina Pertanian menambahkan, Kemtan telah memiliki tim yang menyelidiki kesehatan hewan dari negara tujuan sebelum resmi memutuskan mengimpor daging dari India. Menurutnya, Badan Karantina tetap melakukan analisa risiko terhadap RPH tersebut secara kontinyu. “Kami ingin nantinya semua proses di RPH yang ditunjuk pengawasannya berada dibawah petugas karantina Indonesia,” ujarnya.

Banun bilang Badan Karantina akan mengawal pembelian daging impor itu mulai dari RPH sampai disegel di pelabuhan sehingga dari sisi keamanannya dapat dijamin kesehatannya.

Namun, Rencana Indonesia mendatangkan daging kerbau beku dari India mendapat penolakan dari peternak dalam negeri. Pasalnya, importasi daging dari India juga berpotensi memasukkan PMK ke Indonesia sehingga peternak menjadi pihak yang bakal paling dirugikan.

Rochadi Tawaf, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) mengatakan bila pemerintah tetap ngotot memboyong daging impor India ke Indonesia, artinya pemerintah tidak menghargai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang sudah memutuskan pelarangan importasi daging berdasarkan zona.

Indonesia juga bisa berada dalam situasi berbahaya mengingat Indonesia belum memiliki prosedur pengamanan dan proteksi dalam negeri terhadap wabah PMK sebagaimana ditetapkan OIE. “Indonesia belum ada laboratorium yang memeriksa kondisi daging yang diimpor dan otoritas yang melakukan tanggap darurat,” ujarnya.

Rochadi menjelaskan, hingga saat ini, OIE merilis India masih belum bebas dari PMK, termasuk dari segi zona. Untuk itu, Rochadi mendesak pemerintah tidak buru-buru memutuskan impor daging sapi dari India.

Selain soal penyakit, hal lain yang menjadi keberatan peternak lokal atas impor daging sapi dari India adalah potensi kerugian peternak karena pasokan daging sapi bakal banjir di Tanah Air sehingga harga akan jatuh.

Tak hanya itu, dari sisi ekonomi, kerugian yang akan tampak adalah produk industri berbasis daging sapi bakal kesulitan menembus pasar ekspor lantaran dunia internasional menganggap Indonesia mengonsumsi daging sapi dari negara yang belum bebas dari penyakit mulut dan kuku.

Bahkan, belum lama ini terdengar kabar jika Pemerintah Australia meminta para wisatawan mereka yang datang ke Indonesia harus mendapatkan vaksin agar tidak tertular penyakit yang potensial dibawa dari daging asal India. Jadi waspadalah.

 

Sumber: KONTAN, 24 Juni 2016

Penulis : Noverius Laoli

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: