Polemik di Timur Tengah bakal merugikan Indonesia

JAKARTA. Konflik di kawasan Timur Tengah dikhawatirkan berdampak pada perekonomian sejumlah negara, termasuk Indonesia. Potensi ini bisa terjadi karena Qatar merupakan salah satu negara utama tujuan pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI).

Di sisi lain Qatar juga sebagai salah satu penghasil gas alam dan minyak bumi dunia, sehingga akan mempengaruhi pergerakan harga dan impor energi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Qatar adalah salah satu importir migas yang besar ke Indonesia. Pada tahun 2016, impor migas dari Qatar mencapai US$ 738,21 juta, naik dari tahun 2015 sebesar US$ 574,02 juta. Sedang tiga bulan pertama 2017, impor migas dari Qatar US$ 153,13 juta.

Sedangkan ekspor Indonesia ke Qatar hanya US$ 15,411 juta pada kuartal 1 2017. Total impor dari Qatar US$ 164,93 juta, sehingga terjadi defisit dagang US$ 149,52 juta.

Dari sisi TKI, Qatar juga merupakan negara ke delapan sebagai tujuan pengiriman TKI. Badan Nasional Penempatan TKI (BNPTKI) mencatat, jumlah TKI yang dikirim ke Qatar pada kuartal pertama tahun 2017 sebanyak 448 orang, naik dari periode sama tahun lalu hanya 320 orang. Puncak pengiriman TKI ke Qatar adalah tahun 2012 sebanyak 20.380 orang.

“Jika krisis berlanjut, bisa jadi tidak ada pengiriman TKI. Padahal, hingga saat ini ada sekitar 40.000 TKI di Qatar,” ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, Rabu (7/6).

Ekspor komoditas Indonesia ke Qatar seperti kayu/furnitur, otomotif dan tekstil kemungkinan besar akan turun. Dari sisi investasi, keinginan pemerintah menarik investasi dari Qatar Investment Authority juga bakal terganggu.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengungkapkan bahwa konflik yang tengah terjadi dikhawatirkan dapat memicu keluarnya Qatar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). “Jika sampai Qatar keluar dari OPEC, harga minyak bisa makin rendah,” kata Komaidi.

Walhasil, pasokan minyak dunia makin tak terkendali. Saat ini, produksi minyak Qatar sekitar 2 juta bph atau kurang lebih 6% dari total produksi minyak negara-negara OPEC yang sebesar 32 juta bph. “Sampai sejauh ini yang lebih dominan adalah efek psikologis, kecuali jika nantinya Arab dapat memaksa anggota lain untuk mengeluarkan Qatar dari keanggotaan OPEC,” ujar Komaidi.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution menegaskan konflik antar negara di Timur Tengah tak akan berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia. Alasannya, ekspor-impor serta investasi dengan negara-negara Timur Tengah hanya kecil. “Mitra dagang utama kita bukan Timur Tengah, melainkan kawasan Asia, seperti Jepang, China, Korea, juga dari Amerika Serikat dan Eropa,” kata Darmin.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar