Bisnis Tekstil Lokal Kian Terpuruk

JAKARTA. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat, penjualan produk tekstil di pasar domestik mengalami kelesuan dalam beberapa tahun terakhir.  puncaknya, pada kuartal II-2017, terjadi penurunan hingga 30% ketimbang kuartal pertama tahun lalu.

Padahal, pada tahun tahun sebelumnya, permintaan produksi tekstil menjelang lebaran meningkat signifikan. “penjualan tekstil pada lebaran tahun ini  terburuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” sebut Ketua Umum API Ade Suderajat, saat di hubungi KONTAN, Rabu (5/7).

Banyak faktor yang menyebabkan penjualan produk tekstil di pasar domestik anjlok. Ade bilang, melemahnya daya beli masyarakat berdampak langsung terhadap sepinya permintaan produk tekstil. Kendati sebagian masyarakat menikmati gaji ke – 13, nyatanya tidak mendongkrak penjualan.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, terpleset pula, pengusaha tekstil tertekan beban kebijakan fiskal. Pasalnya, Direktorat Jenderal Pajak melarang pabrik menjual barang produksi mereka ke perusahaan yang tidak termasuk kategori Pengusaha Kena Pajak(PKP)

aturan baru tersebut diberlakukan setelah adanya program pengampunan pajak (tax amnesty). Sebelumnya, industri bisa menjual produk langsung ke pengusaha non-PKP. Setelah praktik tersebut dilarang, industri kesulitan mencari PKP yang mau membeli produk mereka.

Celakanya, ketika pengusaha mengajukan PKP terkesan dipersulit, karena banyak persyaratan yang harus dilampirkan dari mulai Surat Izin Usaha Perdagangan, Tanda Daftar Perusahaan, sertifikat IMB dan NPWP. “aturan PKP ini menyandera pengusaha” protes Ade. Akibatnya, API mengklaim, gudang-gudang penuh karena barang tidak bisa dijual. Volume penjualan semakin merosot.Prama Yudha Amdan, Corporate Communication PT Asian Pacific Fibers Tbk, mengatakan, tren pasar yang kian condong ke produk impor semakin melemahkan penyerapan produk tekstil dalam negeri. “industri lokal terus menurunkan kapasitas produksi,” keluhnya kepada KONTAN, Rabu (5/7)

memangkas produksi

Sejatinya, momentum lebaran bisa mendongkrak penjualan hingga 30%. Tapi itu cerita dulu. Sekarang, dengan banyak sentimen negatif, kinerja industri tekstil dalam negeri babak belur.

Alhasil, Asia Pasific Fibers memangkas jumlah produksi yang biasanya selalu meningkat pada momentum Lebaran. “Tahun ini, kami hanya menargetkan pertumbuhan penjualan 10%. Ini target moderat bukan fantastis,” aku Prama. Kendati demikian, emiten berkode POLY di Bursa Efek INdonesia tersebut masih melihat ada peluang pasar ekspor menambal penyerapan di pasar domestik.

Langkah serupa juga ditempuh PT Pan Brothers Tbk, yang terus ekspansi ke pasar global Produsen produk Uniqlo, Adidas, North face, H&M dan Calvin Klein ini mengalokasikan sekitar 98% penjualan mereka ke sektor ekspor. Itu sebabnya kinerja emiten berkode saham PBRX ini masih berkibar.

Direktur Keuangan Pan Brothers Fitri Ratnasari menjelaskan, pasar ekspor garmen memberikan angin segar bagi bisnis perusahaan ini. Pan Brothers menyasar pasar Asia, terutama Jepang, Hong Kong China dan Singapura. “Pada kuartal dua dan tiga tahun ini, penjualan ditargetkan naik antara 10% sampai 15%,” katanya. Adapun pencapaian penjualan perusahaan ini perkuartal I-2017 sekitar US$ 100 juta.

Sumber : Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: