Pajak Bioskop ‘Mencekik’, XXI Pikir-pikir Masuk ke Tarakan

TARAKAN.  Kabar akan dioperasikannya Grand Tarakan Mall (GTM) memang begitu ditunggu-tunggu. Pengelola mal memang pandai menarik emosional masyarakat Bumi Paguntaka yang kerap kali seperti ‘haus hiburan’ dengan mengumumkan jika bioskop akan hadir di mal terbesar di Kalimantan Utara (Kaltara) ini.

Kemarin, Radar Tarakan mendatangi mal yang dibuat sejak 2005 itu. Sekitar pukul 09.30 Wita, mal tampak sempi dan tidak ada aktivas di dalam mal. Pintu kaca toko-toko di lantai dasar mal ini masih tertutup rapat. Hanya terlihat dua orang yang sedang membersihkan teras mal.

Pukul 09.47, beberapa orang terlihat berlalu lalang di halaman mal, bahkan tak jarang pengendara roda dua yang berhenti di lampu merah pun melirik ke arah mal yang kondisinya memprihatinkan tersebut.
Kurang lima menit jarum jam menunjukkan pukul 10.00 Wita, namun aktivitas di mal ini masih juga terlihat sepi. Hanya terlihat tiga pengunjung yang mencoba melihat ke dalam gedung, tetapi balik lagi karena pintu toko yang ingin dikunjunginya masih tertutup.

Seorang pengunjung, Lucy (47) mengaku hendak mendatangi salah satu toko di lantai dasar. Ia mengaku ingin cetak foto. Hanya saja toko yang dimaksud belum buka. “Saya mau cuci foto, tapi belum buka. Biasanya juga jam segini sudah ada orang di sini,” ungkapnya sambil menunjuk meja yang ada di depannya, Jumat (21/7).

Lanjut perempuan berambut sebahu ini, mal ini sebenarnya megah dan strategis karena jalannya tidak begitu membingungkan sehingga sangat mudah mendapatkan angkutan umum. Jika mal ini dibuka kembali, otomatis warga akan mudah untuk mengakses mal ini.

“Apalagi kalau ada Matahari Departemen Store pasti lebih ramai kan, biasanya kan orang-orang mau pakai baju-baju dari Matahari,” candanya sambil tertawa kecil. Hingga menjelang siang, tiga toko yang berada di lantai dasar tak kunjung terlihat pemiliknya. Karena merasa jenuh menunggu, akhirnya Lucy meninggalkan mal ini.

Andi (35) yang sebelumnya pernah menjadi karyawan salah satu toko di lantai dasar, memutuskan untuk memilih berhenti kerja dan membuka usaha sendiri di luar mal. “Satu bulan yang lalu saya kerja di sini, tapi saya sudah buka usaha sendiri karena yang punya toko juga sudah mau tutup karena sepi,” bebernya sambil melihat sekeliling gedung.

Dirinya memang sempat mendengar informasi bahwa ikon Tarakan ini kembali beroperasi usai hari raya Idul Fitri. Namun hingga saat ini tak kunjung terlihat tanda-tanda seperti adanya perbaikan gedung mal atau semacamnya.

“Saya kurang paham manajemennya itu bagaimana, yang benar mana saya nggak paham,” tuturnya. Tanda-tanda akan ‘dihidupkannya’ kembali GTM memang mulai terlihat. Beberapa fasilitas hiburan sudah disiapkan pengelola untuk menarik perhatian masyarakat, seperti mempersiapkan wahana permainan dan tempat karaoke.

“Di lantai atas sudah ada fasilitasnya, mungkin tunggu izin atau bagaimana saya nggakpaham, padahal tinggal opening-nya aja,” ucapnya.

Radar Tarakan pun mencoba menghubungi pengelola GTM, yang mengaku sedang berada di Surabaya sejak Senin (17/7). Keberangkatannya kali ini membahas rencana renovasi gedung bangunan bersama kontraktor di Surabaya. Meski sebagian data sudah diserahkan ke kontraktor, informasinya kontraktor tetap melakukan tinjauan kembali untuk melihat kondisi fisik bangunan untuk memperhitungkan biaya.

“Minggu depan, dia (kontraktor) akan ukur semuanya dan mungkin langsung dikerjakan. Mengontrol dulu mengenai kekuatan gedung bangunan,” ungkapnya kepada Radar Tarakan melalui via telepon.

Menurutnya tidak ada kendala dalam “menghidupkan” kembali mal ini. Hanya saja setibanya di Tarakan, dia akan fokus mengurusi pajak tonton yang diberlakukan pemerintah kota (pemkot). Berdasarkan informasi yang dia dapatkan, pajak tonton untuk Kota Tarakan mencapai 35 persen, sehingga pengelola merasa keberatan dengan pajak yang dikenakan dibanding di kota lainnya.

“Saya dapat pemberitahuan kalau untuk bioskop itu pajaknya 35 persen. Padahal di ibu kota saja 15 persen, kalau kota yang lainnya itu hanya 10 persen,” terang Tony, sapaan akrabnya.

Sehingga dia akan mengajukan diskusi dengan pemkot mengenai tarif pajak di Tarakan agar memberlakukan kebijakan. Sebab tingginya pajak 35 persen akan menjadi pertimbangan bagi manajemen dan XXI untuk masuk di Tarakan.

“Berat sekali. Ini akan menjadi pertimbangan penjualan tiketnya. Jadi kita pastikan dulu dari pemerintah berapa persen,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan, Pendaftaran, Pendataan dan Penetapan, di instansi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Edy Sukwansyah mengatakan, manajemen harus mengikuti tarif pajak yang sudah ditetapkan oleh peraturan daerah (perda) Kota Tarakan nomor 1 tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

Dalam aturan tersebut tertuliskan tarif pajak hiburan untuk jenis pertunjukan dan keramaian umum yang menggunakan sarana film di bioskop ditetapkan untuk bioskop sebesar 35 persen.

“Tarifnya 35 persen memang segitu, kita nggak bisa apa-apa karena harus sesuai dengan perda,” ungkapnya saat ditemui Radar Tarakan di kantornya, Jumat (21/7).

Berdasarkan Undang-Undang (UU) 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, untuk bioskop maksimal 35 persen. Sehingga pada saat menyusun peraturan tersebut pemerintah kota mengambil nilai kemungkinan tertinggi dengan maksud untuk memperoleh pendapatan asli daerah (PAD) yang besar dari pajak. Namun karena selama ini tidak ada bioskop di Tarakan, maka peraturan tersebut tidak dilaksanakan.

“Kalau memang akan dibuka bioskop, yah kita menghitungnya sesuai itu. Sepanjang peraturannya tidak berubah maka tarifnya tidak berubah,” kata Edy sapaan akrabnya.

Apabila pihak manajemen merasa keberatan, lanjut Edy, Pemkot Tarakan tidak dapat berbuat banyak.

Namun, ia menyarankan, sesuai mekanisme yang ada, pihak manajemen bersama persatuan rekan usaha (asosiasi) bisa mengajukan permohonan agar tarif dapat diubah. Tetapi dalam mengubah tarif, terlebih dulu harus mengubah peraturan daerah.

“Dengan mengubah tarif kita harus mengubah perda, jadi tidak serta merta,” bebernya.

Meski demikian, pihaknya sangat mendukung dengan adanya bioskop di Kota Tarakan. Hanya saja, instansi terkait tidak dapat berbuat banyak mengenai pajak yang sudah ditetapkan. “Kami tentu sangat mendukung apalagi akan menghidupkan kembali GTM itu,” pungkasnya

Sumber : kaltara.prokal.co

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 reply

  1. Bagaimana kota Tarakan akan maju kalau pemerintahnya melambungkan pajaknya..
    Saya saja org tarakan suka kalau kota tarakan maju.. Tapi kalau pemerintahnya saja begitu ya gak bisa maju… Jauh 35% sama 10% … Tarakan kota kecil…
    Jakarta, manado ,dll besar namun pajaknya nda sampai 35..
    # save tarakan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: