Apindo: Daya Beli Masyarakat Turun Karena Serapan Tenaga Kerja Susut

JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, tren penurunan daya beli yang saat ini menjadi polemik terjadi karena adanya tren penurunan angka serapan tenaga kerja formal.

Hariyadi menjelaskan, jika melihat data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan periode serapan tenaga kerja formal dari tahun 2010 hingga 2016 hanya 850.000 orang per tahun.

“Padahal setiap tahun itu masuk kurang lebih sekitar 2 juta lebih angkatan kerja yang masuk ke bursa kerja. Jadi kami melihat bahwa kelas menengah bawah itu betul-betul drop banget,” ujar Hariyadi kepada Kompas.com, Minggu (6/8/2017).

Menurutnya, dengan adanya backlog antara serapan tenaga kerja dan angkatan kerja setiap tahunnya berdampak pada penurunan daya beli.

“Kami asumsikan orang yang punya uang itu adalah bekerja secara formal menerima gajinya secara baik mempunyai fasilitas jaminan sosial dan ter-cover semua dan itu yang kami anggap mempunyai daya beli,” tambah Hariyadi.

Kendati demikian, Hariyadi menegaskan, jika menilik data investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tren pertumbuhan investasi terus meningkat, akan tetapi rasio penerimaan tenaga kerjanya semakin mengecil.

Pada 2010, rasio investasi terhadap penyerapan tenaga kerja bisa mencapai 5.000 tenaga kerja dengan nilai investasi 1 triliun, sedangkan saat ini hanya mampu menyerap 2.200 orang.

“Ini perlu diperhatikan pemerintah. karena yang butuh makan makin banyak tapi yang punya uang untuk belanja semakin sedikit dan itu fenomena di kelas menengah bawah seperti itu,” jelasnya.

Berdasarkan data BKPM realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) kuartal II 2017 mencapai Rp 170,9 triliun, atau meningkat 12,7 persen dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 151,6 triliun. Realisasi investasi tersebut menyerap 345.000 tenaga kerja.

“Angka investasinya naik tapi penyerapan tenaga kerjanya rendah dan di kelas menengah bawah situasinya seperti itu dan situasi kelas menengah atas ada tren menahan belanja jadi orang lebih hati-hati dan lebih cenderung menabung uangnya atau menyimpan,” pungkasnya.

Sumber: kompas.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: