RI Kalah Saing dari Vietnam, Pengusaha: Kepastian Hukum Isu Utama

Indonesia masih kalah saing dibanding Vietnam. Contohnya dala urusan menjalin perdagangan bebas dengan negara lain hingga gesit menarik investor asing.

Menurut Wakil Ketua Umum bidang Hubungan Internasional Kadin, Shinta Widjaja Kamdani, agar Indonesia bisa menyalip Vietnam dalam hal daya saing, jangan hanya mengejar perdagangan bebas, tapi juga menjaring investasi.

“Kuncinya ada di investasi, percuma saja perjanjian perdagangan kalau enggak masuk investasi ya buat apa, cuma buka-buka pasar. Hal ini jadi kunci, kalau investor kan lihatnya, dapat apa dari Vietnam dan dapatnya apa dari Indonesia,” kata Shinta di Forum Public Private Dialogue InternationalTRADE AND INVESTMENT di Hotel Mandarin, Jakarta, Senin (4/9/2017).

Setelah keran investasi dibuka, pemerintah harus menjamin kepastian, baik dari sisi regulasi hingga eksekusi di lapangan.

“Tanpa kepastian hukum mana ada investor mau masuk. Kepastian hukum jadi isu utama, pemerintah sudah bagus dengan inisiatif seperti paket kebijakan terakhir. Yang penting eksekusinya benar-benar berdampak positif, kalau enggak ya enggak ada gunanya,” kata Shinta.

“Perizinan bisa satu pintu, sudah ada PTSP tapi kan banyak yang belum jalan, terus kemudian pusat dan daerah mau dijadikan satu dalam satu gedung apakah itu realistis. Kita sih senang sekali kalau bisa. Tapi kita mau pastikan bahwa itu bisa jalan. Jadi bukan hanya konsep saja,” lanjut Shinta.

“Jadi pertama konsistensi dalam regulasi. Kita tak bisa regulasi tarik ulur, eh ini salah kemudian dicabut, kemudian bilang mau diregulasi, tapi kemudian malah ditambah dengan regulasi baru. Jadi konsistensi itu dibutuhkan jadi kita juga yakin bahwa investasi ini tidak akan ada lagi perubahan-perubahan kebijakan,” tambahnya.

Aturan DNI

Dia mencontohkan lagi, pemerintah juga kerap bongkar pasang dalam aturan DNI (daftar negatif investasi) terkait aturan persentase kepemilikan saham.

“Kebijakan misalnya kita investorBOLEH pegang saham mayoritas, kemudian beberapa tahun kemudian keluar aturan oh sekarang enggak boleh lagi mayoritas, dia musti menurunkan sahamnya. Itu pasti ada impact-nya. Investor itu kan lihatnya jangka panjang bukan jangka pendek, bagaimana caranya kalau ganti-ganti terus kebijakannya,” ujar Shinta.

Di sisi lain, Vietnam yang unggul di tarif bea masuk karena sudah mengantongi beberapa perjanjian perdagangan bebas dengan banyak negara, juga sangat memanjakan para investornya.

“Dari segi competitiveness Vietnam ini memberikan banyak insentif kepada kemudahan berusaha dan investor, juga dengan adanya FTA-FTA yang sudah ditandatangani membuat Vietnam lebih competitiveness. Dan dari segi regulasi dan kebijakan banyak mendukung, seperti untuk labour dan perizinan,” pungkas Shinta.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: