Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Desak Pemerintah Hapus Pajak Penulis Buku

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie turut angkat bicara berkait dengan pola perpajakan di Indonesia, khususnya tentang pajak penghasilan (PPh) yang dikenakan kepada para penulis buku.

Dia mengusulkan agar Pemerintah Pusat dapat menghapus pajak tersebut. Tak ditampik, bentuk protes yang disampaikan Novelis Tere Liye (bernama asli Darwis) maupun Dewi Lestari (Dee Lestari) belum lama ini di publik, dibenarkan olehnya.

“Pungutan pajak seperti yang disebut Tere Liye jauh lebih tinggi dibandingkan pekerjaan atau profesi lain itu sebenarnya sudah cukup lama disampaikan ke pemerintah. Tetapi sayangnya sejauh ini aspirasi para penulis tidak didengar baik oleh pihak eksekutif maupun legislatif,” ucap Gunoto.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada Tribunjateng.com, Jumat (15/9/2017), Gunoto mencontohkan, ketika keluhan nyaris serupa pernah disampaikan penulis buku asal Solo, Afifah Afra. Itu terjadi di beberapa tahun lalu. Hingga kini pun seakan pemerintah tutup telinga.

“Kini, belum lama ini hal serupa mencuat kembali ke publik. Tidak hanya pajak untuk penulis, termasuk juga diberlakukan pada pajak buku. Lebih baik dan harapan kami dapat dihapus. Atau setidaknya diturunkan sesuai harapan para penulis maupun usaha di bidang buku tersebut,” pintanya.

Dia menjabarkan, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 122/PMK.011/2013, memang ada beberapa buku yang dibebaskan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Tetapi belum seluruhnya dibebaskan atau hanya pada buku pelajaran umum, kitab suci, maupun agama.

“Sedangkan buku-buku yang berkaitan pengembangan seni-budaya, tidak masuk dalam kategori. Dari sisi lain pun demikian, masih terkesan tumpang-tindih atau ketidakimbangan dalam pengelompokan jenis jasa kesenian maupun hiburan yang tidak dikenai PPN,” terangnya.

Gunoto menyebut, jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenai PPN itu meliputi semua jenis jasa yang dilakukan para pekerja seni dan hiburan. Seperti tontonan film, pagelaran musik, tari, tata busana, kontes kecantikan, pameran, hingga binaraga.

“PPN yang dikenakan pada setiap buku yang terjual, baik langsung maupun tidak langsung bakal menambah harga jual buku itu. Sedangkan royalty penulis terpaksa harus dipotong PPh sebanyak 15 persen. Padahal untuk menghasilkan suatu tulisan, penulis kerapkali meriset termasuk berkorban waktu maupun biaya,” papar Gunoto.

Menurutnya, di bagian itu yang ada kesan tidak adil apabila terus menerus dibiarkan dan ini pula yang semestinya disikapi oleh pemerintah. Jangan sampai, mereka yang sudah bersedia berkorban, tetap harus mengorbankan hal lain seperti menanggung pajak.

“Tak sedikit yang berkeluh kesah kepada kami soal itu. Mereka kerapkali tidak berdaya ketika penerbit memotong 15 persen dari royalti yang diperoleh penulis. Dan menjadi penulis buku pun akhirnya tidak bisa diandalkan sebagai mata penghasilan tambahan maupun yang tetap untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ucapnya.

Jadi, tambahnya, kembali lagi pada usulannya. Dia melalui DKJT berharap banyak kepada pemerintah untuk dapat mendengar para penulis khususnya di bidang seni, sastra, maupun budaya. Jangan sampai justru dari pajak-pajak berlapis itu (pajak buku maupun pajak penulis) menjadi penghambat dari usaha pemerintah menggalakkan program gerakan literasi.

“Kalau penulis punya penghasilan dari karyanya yang mencapai Rp 50 juta per tahun, bakal dikenai PPh sebanyak 5 persen. Penghasilan dari Rp 50 juta hingga Rp 250 juta per tahun kena 15 persen. Antara Rp 250 hingga Rp 500 juta per tahun dikenai PPh 25 persen, dan yang di atas Rp 500 juta PPh nya 30 persen. Silakan bisa dibayangkan betapa susahnya pula menjadi penulis buku,” tutupnya.

Sumber : tribunnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: