Investor Wait Dan See Reformasi Pajak AS

JAKARTA. Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mereformasi pajak berpotensi menekan minat asing pada obligasi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, efeknya baru akan terasa beberapa bulan setelah Trum merealisasikan kebijakan itu.

Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Robby Rushandie menyebutkan, kekhawatiran pelaku pasar obligasi hanya temporer. “Pasar masih wait and see, bagaimana realisasi reformasi pajak dan dampaknya terhadap inflasi AS,” sebut dia.

Menurut Robby, reformasi perpajakan membutuhkan waktu cukup lama, agar bisa mendorong sektor riil dan laju inflasi negeri uak Sam.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra juga menilai, reformasi pajak baru akan terasa dampaknya pada sektor riil AS dua bulan atau satu kuartal setelah aturannya berlaku. “Nah, yang perlu dilihat ialah bagaimana realisasinya,” katanya.

Jika reformasi pajak sukses, investor berpeluang lebih tertarik dengan instrumen investasi saham di AS. “Karena membeli saham di sana dengan pajak yang dipotong, tentu benefit yang diterima lebih tinggi,” ucap Made.

Dus, para investor melihat, begitu ada usulan reformasi pajak, harga saham di AS akan naik. Sebaliknya, pasar obligasi AS bisa terkoreksi.

Meski begitu, Robby bilang, bisa saja pertumbuhan sektor riil atau perekonomian global masih lambat, meski AS memangkas pajak. Ini justru membuat kas korporasi mengalir ke pasar keuangan.

Tapi, bila dengan reformasi pajak mampu mendorong ekonomi AS tumbuh, pengaruhnya juga akan positif bagi pertumbuhan ekonomi global. Imbasnya juga bakal positif bagi pasar obligasi.

Yield lebih tinggiHanya, Robby memperkirakan, outflow dana asing kemungkinan terjadi di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, namun tidak besar. Dari Indonesia, terutama didorong faktor fundamental ekonomi dalam negeri, seperti inflasi, suku bunga rendah, dan rupiah yang nilainya stabil.

Senada, Made memproyeksikan, outflow dana asing tidak bakal besar. “Kalau dilihat data harian, asing pernah masuk ke obligasi Indonesia sampai Rp 12 triliun dalam sehari. Sempat terjadi asing keluar hanya Rp 1,8 triliun di September,” kata dia.

Obligasi negara kita yang memiliki yield tertinggi di kawasan Asia Tenggara, menurut Made, bisa menjadi daya tarik asing untuk tetap memarkir dana di Indonesia. “Artinya, investor asing sebelum keluar dari kawasan regional akan melihat return negara lain,” ujar Made.

Mengacu data Asian Bonds Online, yield obligasi Pemerintah Indonesia tenor sepuluh tahun per 29 September 2017 lalu sebesar 6,55%. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan yield obligasi negara tetangga yang punya tenor sama, seperti Singapura 2,21%, Thailand 2,31%, dan Vietnam 5,57%.

Tetapi, asing juga akan melihat apresiasi nilai tukar mata uang. Made menuturkan, apresiasi rupiah menjadi yang terendah di kawasan Asia Tenggara secara year to date (ytd). Maklum, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi untuk menjaga rupiah, agar tak terlalu menguat dan menghindari kemungkinan balik arah yang lebih buruk.

Robby memproyeksikan, hingga akhir tahun, obligasi di Asia Tenggara masih bergerak positif. Tapi, investor perlu mencermati risiko eksternal yang tidak terduga.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: