Kenaikan Setoran Bea Cukai Kian Terkikis

JAKARTA. Kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJPBC) Kementerian Keuangan jelang akhir tahun ini kurang menggembirakan. Dengan pertumbuhan penerimaan yang minim, maka potensi tidak tercapainya target semakin besar.

Hal itu terlihat dari catatn Ditjen Bea Cukai yang merilis penerimaan bea dan cukai hingga akhir September 2017 sebesar Rp 104,2 triliun. Jumlah itu hanya naik 1,5% dibnadingkan periode sama tahun lalu Rp 102,71 triliun. Angka pertumbuhan itu susut dibanding dengan pencapaian sebulan sebelumnya yang tumbuh 4,49% year on year (Yoy) menjadi Rp 92,6 triliun.

Penyusutan pertumbuhan kenaikan penerimaan terjadi karena laju setoran cukai rokok mini. Selain itu juga karena ada penurunan setoran cukai etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA), serta kontarksi pendapatan cukai lainnya sepanjang sembilan bulan ini.

Dari data Dirjen Bea Cukai terlihat realisasi cukai hasil tembakau atau rokok selama sembilan bulan pertama hanya Rp 74,63 triliun atau naik 0,63% Yoy. Sementara penerimaan cukai dari etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol masing-masing sebesar Rp 106 miliar dan Rp 3,33 triliun.

Jumlah itu turun dari realisasi pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 123,8 miliar untuk cukai minuman mengandung alkohol. Sementara target di APBN Perubahn 2017 masing-masing di ketok sebesar Rp 147,99 miliar dan Rp 5,53 triliun.

Sedangkan setoran dari cukai lainnya terkontraksi minus Rp 182,6 miliar hingga September ini. Padahal di periode yang sama sebelumnya, penerimaan dari cukai lainnya positif sebesar Rp 65,59 miliar.

Kasubdit Penerimaan Ditjen Bea dan Cukai Rudy Rahmaddi menilai setoran penerimaan bea cukai terbilang masih bagus, karena masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Walau begitu target cukai tahun ini memang bakal sulit terjadi. “Pola penerimana kan memang berat di belakang,” kata Rudy, Senin (2/10).

Penurunan cukai hasil tembakau sejalan dengan pengandalian pereedaran rokok. “Kemungkinan produksi rokok memang tertekan,” ujar Rudy.

Ketua aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo Siswoyo mengaku tekanan produksi rokok bukan hanya terkait pengendalian, namun juga imbas pelemahan daya beli. Dia bilang produksi rokok tahun lalu hanya turun hingga 6 miliar batang. Diperkirakan penurunan produksi rokok tahun ini lebih besar lagi.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: