Banyak toserba terkenal tutup: Apa yang terjadi sebetulnya?

Lotus department store

Gerai Lotus di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, sesak dijejali pengunjung, setelah tersebar luas bahwa mereka mengadakan diskon besar-besaran hingga 80% menjelang penutupan toserba itu di akhir bulan.

Sebagian pengunjung bahkan datang lebih dari satu kali. Hesty Junita, misalnya, mengatakan bahwa dia mengantri hingga tiga jam pada hari Kamis (26/10) setelah hari sebelumnya juga telah datang untuk berbelanja.

Gara-gara berjubelnya orang yang datang, memang pengunjung sampai harus mengantri, padahal hari-hai sebelumnya toko itu sering tampak lengang.

“Kemarin malam habis maghrib baca di berita di ponsel, pas lihat, langsung saja ke sini, eh sudah tutup. Tadi sama kakak ke sini lagi. Dari Grogol sengaja ke sini,” kata Tessa Wenti Hutami.

Ada juga yang tertarik karena melihat promosi diskon seperti Robby Prayuda, “Tadi habis makan di sebelah, ada diskon begini, ya sudah langsung ke sini. Tadi ramai-ramai, kebetulan yang lain sudah pada duluan, saya coba lihat-lihat ke atas,” katanya sambil terkekeh.

‘Strategi bisnis normal’

Selain Lotus, pada akhir tahun toserba Debenhams juga akan ditutup oleh PT Mitra Adiperkasa, perusahaan yang merupakan induk Lotus dan Debenhams.

Hal ini, menurut juru bicara PT Mitra Adiperkasa Fetty Kwartati, sebagai bagian dari “restrukturisasi bisnis untuk meningkatkan kinerja perusahaan”.

“Jadi dalam bisnis ritel itu, buka tutup toko itu kan biasa,” jelas Fetty Kwartati.

“Jadi kalau memang kinerjanya kurang baik, sudah ditinjau dan diperbaiki semua strategi tapi memang masih tidak sesuai dengan harapan, ya biasanya ditutup. Itu yang terjadi dengan Lotus, dengan Debenhams, karena memang department store sekarang ini trennya pindah ke specialty store (toko berkonsep)

“Dan juga milenial, terutama anak-anak muda ini kan mereka banyak yang lebih memilih belanja di online,” tambahnya.

‘Bukan karena ritel online’

Benarkah mereka tutup gara-gara orang lebih suka belanja lewat jaringan internet?

Pada bulan September lalu, Matahari Department Store juga menutup dua gerai mereka di Jakarta. Ini memang memunculkan spekulasi bahwa meredupnya industri ritel merupakan akibat dari beralihnya konsumen ke ritel online.

Namun berdasarkan data yang dikutip Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (APRINDO) Roy Nicholas Mandey, proporsi ritel online hanya sebesar AS$4,89 juta atau hanya 1,4% dari total kapitalisasi pasar ritel offline yang sebesar $320 milyar.

Menurutnya, perubahan perilaku konsumen yang menjadi penyebab melesunya belanja ritel bukan karena ritel online, melainkan perubahan prioritas.

“Sekarang kita lihat justru number of customer account (jumlah konsumen) itu tetap bertambah, kita lihat mal-mal tetap ramai,” jelas Roy.

“Mereka yang memiliki uang, yang status ekonomi sosialnya B, B+ sampai A itu mereka justru sekarang menahan belanja dan mereka lebih menggunakan ke leisure atau lifestyle dan ada kecenderungan mereka sudah cerdas dan memasukkan ke deposito berjangka.”

“Itu terlihat sekali di Bank Indonesia selama satu tahun terakhir, khususnya semester satu, ada peningkatan 2,3% dana pihak ketiga di time deposit.”

Kalaupun memang ada perpindahan konsumen ke online, Priyanto Lim, Head of Commercial Zalora – salah satu ritel online terkemuka – mengatakan sejauh ini tidak ada pertumbuhan drastis di sektor ritel online.

“Kita melihat kurva pertumbuhannya, secara grafik memang tidak sekencang tahun-tahun sebelumnya. Dari sana kita menganalisa memang lebih pada peralihan permintaan.”

“Kalau secara pola hidup dan kebiasaan konsumen yang bisa kita lihat, customer kan sekarang senang sekali dengan experience (pengalaman). Contohnya mereka bepergian, belanja makan dan minum. Jadi mereka sering posting (di internet). Itu memang agak bergeser dari sebelumnya mereka lebih didorong produk, mereka berbelanja, beli barang. Sekarang mereka lebih mencari experience,” jelas Priyanto.

Hal itu pun diamini oleh para konsumen yang ditemui di gerai Lotus.

“Saya tidak pernah (belanja online). Kalau pernah pun mungkin alat rumah tangga, tapi kalau untuk fesyen saya tidak pernah. Lebih enak belanja langsung, lihat langsung kan daripada online,” aku Hesty Junita

“Takut kecewa kalau (belanja) online. Belum terlalu (percaya) ke online. Paling baru unduh aplikasi saja,” kata Tessa Wenti Hutami.

“Saya lebih suka offline dibandingkan online. Sambil bawa keluarga, sambil rekreasi. Walaupun memang ada beberapa yang barangnya sudah tahu secara offline dan online, itu lebih mudah online. Tergantung situasi kondisinya seperti apa,” kata Robby Prayuda.

Dengan gambaran itu, raksasa ritel Indonesia PT Mitra Adiperkasa tahun ini pun masih menargetkan pertumbuhan pendapatan sebanyak 13%.

Potensi ritel online

Betapapun, sektor online berpotensi menjadi kompetisi sengit sektor offline.

“Diprediksikan e-commerce di Indonesia, khususnya fesyen, pertumbuhannya 35% sampai 40% per tahun. Jadi kurang lebih setiap 2,3 tahun ukuran (sektor) nya sudah dua kali lipat. Potensi pasarnya itu masih sangat besar. Kalau kita bandingkan negara yang sudah sangat maju e-commerce-nya misalnya di Cina, online retail sudah kontribusi 15 sampai 20% dari total,” kata Priyanto Lim.

“Belum berarti (kontribusinya) tapi kecenderungan online ini bukan deret hitung tapi deret ukur. Oleh karena ini dalam berbagai kesempatan Aprindo meminta untuk playing field (ruang bersaing) dari offline dan online ini secepatnya disamakan,” tutur Roy Mandey.

Regulasi hingga saat ini belum ada yang mengatur UU e-commerce secara spesifik.

“Masih ada payment flight – pembayaran yang dilakukan dengan payment getaway (medium pembayaran) luar (negeri). Kemudian barang dikirim tanpa pajak, dan tanpa sertifikasi produk SNI,” tandas Roy Mandey.

Sumber : bbc.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: