Politik Padat Karya

Politik Padat Karya

Pemerintah pada tahun depan akan mengeluarkan kebijakan terkait dengan proyek padat karya yang bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini sebagai solusi untuk memperkuat daya beli masyarakat yang akhir-akhir ini melemah. Peraturan Presiden (Perpres) yang masih dalam penggodokan ini nantinya akan melibatkan Kementerian Desa, Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Perhubungan.

Salah satu bentuk proyek padat karya adalah optimalisasi anggaran dana desa yang dikelola Kementerian Desa. Nantinya, setiap desa diharapkan bisa menyedot 200 tenaga kerja. Perlu diketahui, jumlah desa di Indonesia saat ini ada 74 ribu desa, sehingga kalau program padat karya jalan akan ada sekitar 15 juta tenaga kerja yang terserap. Dana desa sendiri pada 2018 dianggarkan 60 triliun rupiah.

Tak cuma itu, sistem pembayaran tenaga-tenaga kerja yang dilibatkan dalam proyek-proyek pembangunan akan diberikan secara tunai. Mereka akan dibayar tunai secara harian atau mingguan. Jadi, orang dibayar langsung karena kerja. Dengan cara ini diharapkan dana desa bisa langsung berimbas pada daya beli dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Program padat karya pernah dilakukan oleh pemerintahan pada periode sebelumnya yang ditujukan sebagai distribusi pendapatan kepada masyarakat secara luas. Program semacam ini diharapka bisa membantu meningkatkan daya beli masyarakat yang pada gilirannya menggerakkan perekonomian.

Setidaknya, pelaksanaan program padat karya bisa dapat menjawab permasalahan kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat desa. Dengan program padat karya pemerintah berusaha me-manage strategi kegiatan tersebut dengan sistem kerja yang inovatif dan kreatif, komitmen dan pendekatan pemberdayaan masyarakat desa, sebab masing-masing desa memiliki banyak potensi, seperti lahan yang cukup untuk mengolah kebun.

Walau ada kendala, seperti masyarakat masih mempertahankan sistem kerja yang tradisional atau kualitas pendampingan di lapangan yang belum optimal, tapi peran pemerintah sangat penting. Untuk itu, pemerintah perlu memenej strategi pelaksanaan program padat karya dengan sistem kerja yang kompetitif, strategi pendekatan pemberdayaan yang intensif, membangun koordinasi yang baik di antara pelaksana program padat karya dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa.

Pemanfaatan masyarakat desa hanyalah salah satu upaya. Sebab, pemerintah perlu juga memprioritaskan industri padat karya, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, furnitur, dan kerajinan tangan (handy craft). Demikian pula manufaktur berbahan baku hasil perkebunan, antara lain turunan CPO, cokelat, kopi, dan lainnya perlu diberikan perhatian. Sebab, jenis industri ini berorientasi ekspor sehingga didapat lapangan kerja dan devisa juga.

Lebih dari itu, program padat karya ini seharusnya tidak bisa hanya sekadar “pemadam kebakaran” semata. Sebaiknya, padat karya mesti jadi pilihan dalam strategi pembangunan. Artinya, pemerintah ingin memprioritaskan strategi pembangunan padat karya atau padat modal? Harus jelas dan tegas sehingga garis besar pembangunan menjadi fokus.

Kita khawatir, padat karya nantinya hanya menjadi alat politik untuk kepentingan pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan umum (pemilu). Apalagi tahun depan adalah tahun politik, banyak daerah melaksanakan pilkada dan tahun berikutnya diadakan pemilihan presiden.

Selain itu, jika baru sekarang muncul gagasan program padat karya, lalu bagaimana dengan program pada modal yang sedang berjalan? Semoga bisa sesuai jadwal dan bisa memberikan manfaat untuk meningkatkan pendapatan nasional. Ya, semoga upaya pemerintah menggairahkan kegiatan ekonomi masyarakat sesuai dengan harapan kita semua. Setidaknya, pada tahun depan ada harapan tentang peluang kerja di berbagai perdesaan, termasuk peluang kerja di industri berorientasi ekspor.

Sumber : koran-jakarta.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: