Kena Cukai 57%, Ini Tanggapan Pedagang Rokok Elektrik

Kena Cukai 57%, Ini Tanggapan Pedagang Rokok Elektrik

Seiring berkembangnya teknologi banyak juga produk-produk canggih diciptakan untuk mengganti barang-barang konvensional. Seperti halnya rokok, meski sulit untuk ditinggalkan namun sudah ada alternatifnya yaitu rokok elektrik (vape/e-sigaret).

Rokok elektrik booming di Indonesia sekitar lima tahun belakangan. Hanya saja, pada masa-masa itu masih sulit mendapatkan peralatan lengkap untuk menikmatinya. Tidak jarang, bagi yang penasaran rela membelinya dari luar negeri baik alat hisapnya maupun likuidnya.

Saat ini, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan memastikan akan memberlakukan cukai rokok elektrik sebesar 57% pada 1 Juli 2018. Cukai ini bukan pada alat penghisap atau mod, melainkan pada likuid atau essence yang menjadi perasa.

Bagaimana tanggapan pedagang rokok elektrik?

“Kalau dari segi bisnis tentunya kita lihat dari daya beli masyarakatnya juga kalau daya beli masih tinggi ini enggak jadi masalah,” ungkap Chandra Darusman, salah satu pemilik toko vape kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Menurut Chandra, bahwa bisnis tersebut di Indonesia sangat menjanjikan, terlebih lagi banyak masyarakat yang sudah beralih dari rokok biasa ke e-sigaret, bahkan tidak jarang ada yang mengkonsumsi keduanya.

“Masih menjanjikan, karena user sekarang semakin banyak, device, likuid, aksesoris juga makin banyak dan murah,” ujarnya.

Rokok elektrik mulai booming di Indonesia pada 2010-2012 yang dimulai dari bentuknya yang menyerupai rokok biasa, lalu berganti dengan bentuknya yang seperti pena namun ada tabung untuk mengisikan cairan essence atau likuid, dan untuk saat ini bertransformasi lebih canggih lagi.

“Kalau pertama kali booming, device dan aksesoris semua-muanya masih mahal-mahal, enggak ada yang murah dan varian belum banyak,” tambah dia.

Pada saat itu, kata Chandra, masyarakat harus mengeluarkan kocek yang cukup tebal untuk bisa menikmati rokok elektrik. Apalagi, barang-barangnya hampir mayoritas dari luar negeri.

Untuk harga starkit atau yang modelnya seperti pulpen ini dibanderol sekitar Rp 300 ribu, jenis mechanical sekitar Rp 700 ribu sampai Rp 3 juta, sedangkan boxmod atau seperti rokok elektrik yang hits sekarang ini sekitar Rp 2 juta sampai Rp 5 jutaan.

“Apalagi likuid rata-rata impor dari Malaysia dan US, jadi harga tinggi,” tegas Chandra.

Masih menjanjikannya usaha rokok elektrik di Indonesia, lanjut Chandra, lantaran harga jual device, aksesoris, likuid sudah mulai murah dengan jumlah pengguna yang semakin banyak.

“Jadi harga tinggi dulu karena user belum banyak, sekarang harga murah permintaan banyak,” katanya.

Lebih lanjut Chandra menceritakan, kondisi usaha rokok elektrik yang masih memiliki potensi cukup besar bisa dilihat dari sudah menjamurnya toko-toko vape di Indonesia.

“Kalau dulu pertama kali beli, itu bukan ke toko, tapi nyamperin ke rumah yang jual by online,” tukas dia.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: