Ekspor Kayu Gelondongan Dibuka

KLHK akan membuka ekapor katu gelendongan untuk menggerek harga kayu lokal

JAKARTA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berencana membuka izin ekspor produk kayu bulat atau kayu gelondongan. Alasannya, pasokan kayu di dalam negeri sedang berlimpah dan tidak semuanya bisa diserap industri kayu.

Rencana pembukaan izin kayu log atau gelondongan itu diungkapkan Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono. Walau izin ekspor kayu gelondongan akan dibuka, Bambang mengklaim kebijakan ini tak akan mengganggu industri berbahan dasar kayu seperti mebel. “Kayu yang akan dikeluarkan (ekspor) kualitasnya luar biasa baik, belum ada industri yang bisa mengolah kayu tersebut,” ujarnya, Selasa (21/11).

Diperkirakan potensi produksi kayu bulat di Indonesia berdasarkan mencapai 9 juta meter kubik. Dari total potensi tersebut, jumlah kayu yang dinilai memiliki kualitas bagus sekitar 10%.

Menurut Bambang, upaya membuka keran ekspor kayu gelondongan disebabkan karena produksi kayu yang dihasilkan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Alam melebihi kebutuhan industri. Selain itu, ke depan pasokan kayu untuk industri semakin melimpah dari program perhutanan sosial yang saat ini telah digulirkan pemerintah.

Terkait berapa banyak kebutuhan kayu untuk industri  di dalam negeri, Bambang bilang, saat ini Kementerian Perindustrian (Kemperin) tengah melakukan penghitungan kembali. Walau angka belum keluar, dia yakin kebutuhan untuk industri sudah bisa terpenuhi sehingga sebagian bisa di ekspor.

Apalagi menurutnya, kebijakan dari KLHK ini hanya bersifat sementara. Disisi lain pemerintah juga masih tetap mendorong upaya hilirisasi produk berbasis kayu untuk dijajakan di pasar ekspor. Diharapkan dengan dibukannya ekspor kayu bulat, maka harga kayu di Indonesia kan meningkat.

Industri bakal berkompetisi dengan para pedagang untuk peroleh kayu.

Bambang menjelaskan, ekspor dinilai solusi tepat memperbaiki harga kayu di pasar lokal yang saat ini sekitar Rp 1,2 juta per meter kubik. Padahal, di pasar internasional harganya bisa mencapai Rp 3 juta per meter kubik. Dengan harga tersebut, saat ini masih banyak yang enggan menanam kayu karena khawatir akan harga yang tidak menutupi biaya penanaman.

Selain untuk menaikkan harga kayu, ekspor kayu gelendongan dibuka dengan gelondongan dibuka dengan tujuan menambah pemasukan bagi pengusaha pengolah hutan. Dengan begitu nantinya mereka bisa diminta untuk membangun industri pengolah kayu sendiri.

Sebuah Kemunduran

Atas rencana ini Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan (Indonesia Sawmill and Wood Working Association/ISWA) Soewarni menilai hal ini sebuah kemunduran.

Menurut Soewarni industri dalam negeri masih membutuhkan bahan baku kayu sehingga lebih baik digunakan oleh industri lokal. Industri juga masih mampu membeli bahan baku kayu dengan harga yang tinggi.

Bila kebijakan ekspor kayu bulat ini diterapkan, dikhawatirkan akan  memberikan celah bagi perdagangan kayu ilegal. “Pemberlakuan kuota 10% boleh saja dilakukan, tetapi perdagangannya tetap tidak bisa dikawal,” katanya.

Apalagi ekspor kayu bulat juga mengurangi nilai tambah dalam negeri dan tidak akan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Oleh karena itu dia secara  tegas menolak rencana tersebut.

Wakil Ketua Umum Bidang Bahan Baku Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Andang Wahyu Triyanto menilai kebijakan ini akan menurunkan pasokan kayu ke industri karena ada kompetisi dengan perdagang untuk mencari pasokan. “Industri was-was tidak kebagian pasokan kayu.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: